Jumat, 14 Agustus 2009

Perikanan Kita yang tak terkendali dan merusak - 1


Digubah kembali berdasarkan tulisan Nirmal Ghosh,pertama kali di-publish di The Straits Times.

Uraian keadaan dibawah yang terjadi dipasar Mahacai Bangkok yang mungkin serupa umumnya keadaan di lapangan perikanan lokal Indonesia:

Dalam senja tropis yang lembab, perahu-perahu mulai berdatangan, membongkar muatan keranjang-keranjang plastik berisi ikan, udang, cumi-cumi dan kepiting. Sudah menunggu, beberapa orang pria yang mensortir tangkapan, bekerja diantara tumpukan es. Kebanyakan ikan-ikan masih kejang-kejang, masih segar; kepiting, seperti biasa, dilibat kuat oleh tali plastik. Kesemuanya ditangkap langsung oleh nelayan – yang besar kemungkinan datang dari armada pukat (trawler) di laut lepas sana.

Ikan laut dijaja di Pasar Mahacai, Thailand
(Foto: www.indiajungles.com)

Kait besi digunakan untuk menyeret keranjang-keranjang tangkapan tersebut, bergabung dengan udang-udang gemuk yang ditangkap dekat kawasan pesisir. Kebanyakan tangkapan dibeli langsung untuk pengolah seafood dan pemilik restoran; Mahacai menjadi pemasok utama industri seafood thailand dan permintaan besar pasaran di Bangkok.

Duduk di perahu setelah menurunkan 2 keranjang ikan, cumi-cumi dan udang - hasil tangkapan setelah 2 hari di laut - Sayan Taengpoo, 46, ayah dari emat orang anak, 20 tahun pengalaman nelayan, berkata bahwa perkembangan industri di kawasan telah memperbururk kualitas air, dan tangkapan terus menurun sejak 10 tahun lalu. Naiknya harga pasatan seafood juga dibarengi dengan naiknya harga bahn bakar dan perawatan. Kombinasi keduanya membuat pekerjaan semakin sulit.


Tangkapan segar Cumi di Pasar Mahacai, Thailand
(Foto: www.indiajungles.com)

Pak Viroj Limsit, direktur pengelola exportir besar Narong Seafood, di kantor-nya yang dekat dengan pasar juga berkata bahwa tangkapa terus menurun. 'Alasannya sederhana, penangkapan berlebih (overcatching) di masa lalu dan kurangnya pengendaliansumberdaya alam di perairan Thailand,' beliau berkata.

Teluk Thailand yang relatif tegolong dangkal merupakan salah satu kawasan perikanan terpadat di dunia. Nelayan Thailand, dalam kurun waktu 15 tahun belakang ini, karena kompetisi dan stok menurun, terdorong hingga menjelajah ke kawasan Oman, India, Bangladesh, Myanmar, Indonesia dan Vietnam dibawah ijin tangkap resmi.

'Biaya (retribusi) meningkat, disertai dengan implementasi peraturan dan regulasi mempersulit kami dalam penangkapan ikan di kawasan asing', ujar Pak Viroj. 'Bahkan di tahun 2007, Indonesia berhenti mengeluarkan ijin penangkapan ikan bagi kapal tangkap asing.'

Permasalahan semacam ini menerpa kawasan Thailand, Indonesia-pun nampaknya tidak luput, dan ini umum terjadi di dunia saat ini. Di haparan lautan planet kita saat ini, jumlah kapal tangkap mekanik (modern) diestimasi sekitar 2.1 juta, dan dari ribuan dari mereka terdaftar dalam Organisasi Pangan dan Agrikultur (FAO) dalam kewarganegaraan yang 'tidak diketahui'.

Trawler skala industri saat ini hampir-hampir melumpuhkan kekayaan perikanan lautan dunia, dan memperburuk puluhan juta matapencaharian nelayan kecil lokal. Di sebagian daerah di Filipin, dengan lautnya yang juga ditangkap secara berlebih baik oleh Filipino sendiri dan asing, golongan nelayan ini hanya bisa membawa rata-rata sekitar 3000 Peso (Rp 600.000) per bulannya.

Di berbagai belahan dunia saat ini, armada komersial trawler terus mengejar ikan yang semakin sedikit jumlahnya. Dan sejalan dengan menghilangnya jenis ikan-ikan khusus pasar 'permintaan-besar', organisme laut yang berada di rantai makanan lebih rendah semakin bertambah, karena sedikitnya predator. Namun, mereka tidak luput dari target longline dan jaring, yang seringkali ditarik oleh kapal, mengoyak dasar laut tanpa pandang bulu, menggaruk semua makhluk hidup yang ada di sana.


Trawler industrial meggaruk dasar lautan
(Foto: Brian Skerry, isiria.wordpress.com)

Untuk setiap kilo yang sampai ke pasar semacam Manchai di Thailand, 10 kilo - dan terkadang hingga 100 kilogram - dari tangkapan dibuang begitu saja karena tidak bisa dperdagangkan - biasa disebut sebagai bycatch (tangkapan sampingan). 'Tidak hanya dasar laut yang mengalami kerusakan yang berarti, pembuangan tangkapan ikan yang tidak diinginkan juga memperparah keadaan,' terkutip juga dari laporan dari laut Arafura di Indonesia.


Beragam ikan pari dan jenis ikan lainnya dibuang ke laut dari perahu nelayan udang sebagai bycatch
(Foto: Brian Skerry, isiria.wordpress.com)

Perairan tropis dangkal menderita tekanan ganda baik dari pertumbuhan populasi nelayan lokal dan juga perikanan skala-industrial, yang umumnya tidak teregulasi. Indonesia merugi sekitar US$ 2 miliar setap tahunnya dari perikanan ilegal, tak terlaporkan, tak teregulasi (illegal , unreported and unregulated fishing).

Kamis, 02 Juli 2009

Perubahan Iklim - Perlu Ketangguhan dan Altruisme Pemimpin


Posting kali ini saya kutip sepenuhnya dari Harian Kompas, Kamis, 2 Juli 2009 - Sorotan - Halaman 40. Jangan sampai kita mawas politik namun masih buta lingkungan.

Kondisi air laut dan daratan di bibir pantai utara Semarang, jawa Tengah, pertengahan april lalu.
(Foto: KOMPAS/EDDYHASBY)

Brigitta Isworo L

Organisasi nonpemerintah Oxfam Internasional akhir April menyebutkan, ratusan juta warga dunia dalam enam tahun mendatang akan menjadi korban bencana terkait dengan perubahan iklim. Jumlah bencana iklim meningkat 54 persen, mengakibatkan 375 juta orang per tahun pada 2015 terkena dampaknya, dengan basis data tahun 1980.

Awal Mei, kota Jakarta oleh The International Development Research Center's Economic and Environmental Program for Southeast Asia (IDRC- EEPSEA) dinyatakan sebagai kota paling rentan terhadap bencana perubahan iklim. Direktur EEPSEA Herminia Fransisco mengemukakan, bencana itu antara lain berupa banjir, kekeringan, kenaikan muka air laut, dan longsor. Kerentanan tinggi antara lain karena kepadatan penduduk yang demikian tinggi.

Sesuai dengan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), secara global saat ini terjadi kenaikan suhu permukaan bumi rata-rata 0,74° C dalam satu abad. Dalam 20 tahun ke depan diperkirakan terjadi kenaikan suhu 0,2° C per dekade.

Upaya serius dunia ditandai oleh lahirnya Protokol Kyoto yang memuat kewajiban 37 negara industri untuk mengurangi emisi karbonnya rata-rata 5 persen dari emisi tahun 1990. Target ini nyaris semuanya tak tercapai. Pada Desember nanti, di Kopenhagen, Denmark, akan dibahas kesepakatan baru pasca-Protokol Kyoto-protokol ini berakhir masa berlakunya pada tahun 2012.

Namun, dalam pertemuan di Bonn, Jerman, pada Juni lalu, persoalan tetap berkutat pada pembagian beban pengurangan emisi. Juga belum ada titik cerah soal bantuan dana adaptasi dan mitigasi untuk negara miskin dan berkembang. Menurut perhitungan Oxfam yang baru-baru ini dipublikasikan, dibutuhkan investasi publik 150 triliun dollar AS (sekitar Rp 1,5 juta triliun) setiap tahun untuk memfasilitasi aksi mitigasi dan adaptasi negara berkembang.

Di sisi lain, negara miskin selalu disalahkan karena emisi karbonnya tinggi. Indonesia tercatat menjadi emiter ketiga terbesar karena faktor gambut, dan menurut laporan Bank Pembangunan Asia (ADB), Indonesia emiter terbesar di Asia akibat perubahan fungsi lahan.

Sementara perubahan radikal terjadi di Amerika Serikat. Presiden Barack Obama yang diangkat pada Januari lalu dengan berani mengajukan rancangan undang-undang mengenai perubahan iklim dengan target pengurangan emisi 17 persen pada 2020 dari level emisi 2005 dan 83 persen pada 2050 melalui program cap-and-trade-membolehkan penggantian kelebihan emisi dengan sejumlah uang. Selain itu, AS juga akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menggantikannya dengan energi baru dan terbarukan.

Banyak pihak memandang, keberhasilan COP-15 Kopenhagen bergantung pada undang-undang perubahan iklim AS (Security Act) tersebut. Namun, China tetap memegang peran penting untuk lahirnya kesepakatan baru karena China masuk dalam tiga besar emiter karbon terbesar di dunia.

"BAU" di Indonesia

Dalam isu perubahan iklim global ini, peran Indonesia di meja perundingan global cukup menonjol, antara lain dengan menjadi tuan rumah COP-13 Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNCCC) dan tuan rumah Konferensi Kelautan Dunia (WOC) serta nanti pada bulan Oktober menjadi tuan rumah pertemuan IPCC.

Terletak di ekuator, berupa kepulauan yang diapit dua lautan utama (Atlantik dan Pasifik), secara klimatologis posisi Indonesia penting karena "motor" iklim dunia terletak di kawasan ini. Luasan hutan Indonesia masuk dalam empat besar dunia. Padahal, hutan berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink). Selain hutan, keanekaragaman terumbu karang Indonesia dan lima negara yang tergabung dalam Prakarsa Terumbu Karang (CTI) juga mencakup lebih dari 60 persen total dunia. Dengan alasan tersebut, dunia berkepentingan menjaga ekosistem Indonesia untuk mengerem laju pemanasan global, penyebab perubahan iklim.

Namun, Indonesia saat ini tidak memiliki dana untuk melakukan program mitigasi dan adaptasi serta tidak memiliki teknologi bersih. Untuk mengatasi dua persoalan krusial ini, dana dan teknologi, sejumlah langkah internal harus dilakukan. Pertama-tama harus segera disusun peta kerentanan-berbagai pihak terus mendesak, tetapi masih dijanjikan selesai menjelang COP-15 di Kopenhagen. Peta kerentanan ini mengandaikan telah ada tata ruang nasional secara rinci dengan dilengkapi antara lain data bencana, peta geografis, potensi ekonomi, dan sejarah iklim yang sahih dari daerah-daerah. Pengerahan data dari daerah, kalaupun ada, tidak terdengar nyata.

Sementara itu, masalah dana, Indonesia justru menambah utang sebesar 600 juta dollar AS berupa pinjaman lunak dari Jepang dan Perancis serta 10 juta poundsterling dari Inggris-dana hibah dengan konsentrasi program adaptasi (Kompas, 18/6). Dana-dana itu pun tidak bisa digunakan karena belum ada program adaptasi sektoral.

Ketika COP-13 di Bali dikatakan sukses dengan hasil Bali Road Map dan WOC dikatakan sukses dengan Manado Ocean Declaration (MOD), di dalam negeri secara ironis semuanya berjalan BAU (business as usual) alias biasa-biasa saja. Bahkan, untuk WOC pun nelayan tidak dilibatkan, sebaliknya dipinggirkan karena aksi damai mereka diredam. Peta kerentanan tak kunjung usai dibuat, apalagi program adaptasinya. Proyek percontohan adaptasi yang dilakukan Departemen Kelautan dan Perikanan tidak disebarluaskan. Langkah mitigasi tersendat, tak ada kejelasan arah. Penelitian tentang energi baru dan terbarukan yang sudah banyak dilakukan malah mentah di jalan. Contoh paling menyakitkan adalah gagalnya program jarak pagar. Cetak biru diversifikasi energi juga tidak jelas kelanjutannya.

Jika pemerintah terus sibuk membangun citra di panggung internasional dan meninggalkan rumahnya sendiri, bukan tidak mungkin negara ini akan bangkrut dalam beberapa dekade mendatang karena bencana akan datang secara simultan dan dalam skala yang mungkin tidak terbayangkan. Desember 2007 sebagian Jakarta utara terendam berhari-hari. Untuk perbaikan tanggul saja biayanya Rp 1,3 miliar, belum lagi kerugian nelayan akibat tidak melaut berhari-hari.

Contoh lain, pemerintah bukannya menambah mangrove atau bakau sebagai langkah adaptasi, sebaliknya justru menghancurkan bakau terpanjang di Asia-panjangnya 30 kilometer- yang akan dijadikan Pelabuhan Tanjung Api-api di Sumatera Selatan. (Kompas, 3/5/2007). Di Indonesia, bakau yang bagus saat ini tinggal 2,5 juta hektar, seharusnya 9,36 juta hektar (Kompas, 29/11/2007).

Perubahan iklim tidak sepantasnya dijadikan komoditas politik karena yang dipertaruhkan adalah masa depan manusia yang hidup di dalam ekosistem yang serba terbatas secara ruang. Tantangannya memang amat berat.

Negara industri jelas tidak akan melepas Indonesia sebagai pasar terbesarnya dan pengutang terbesar. Di sisi lain, investor akan terus mengincar sumber daya alam, padahal eksploitasinya akan menambah emisi karbon. Indonesia akan "dipaksa" membeli teknologi bersih yang mahal, padahal sebenarnya local wisdom yang ada telah mampu mengatasi masalah lokal. Pada akhirnya kita akan terjerat pada utang (jenis) baru.

Menghadapi tantangan perubahan iklim, pekerjaan presiden mendatang memang tidak mudah. Dibutuhkan presiden yang tangguh, berani tidak populer di antara negara besar dan investor besar, dan memiliki jiwa altruistik-meminjam sebutan Mira Lesmana (Kompas, 30/6), yaitu presiden yang mementingkan dan mengutamakan orang lain, dalam hal ini rakyat, daripada dirinya sendiri. Itu semua demi menyelamatkan masa depan dari kebangkrutan dan bunuh diri ekologis. Siapa yang siap?



Senin, 15 Juni 2009

Ancaman predasi Drupella bagi Karang: Pentingkah?


Baru-baru ini (Mei – Juni 2009) GoBlue meliput fenomena pemutihan karang masal di kawasan Pemuteran, Bali. Tidak hanya itu, ternyata siput koralivora (pemakan karang) jenis Drupella sp. juga sedang mewabah, andil dalam menggerogoti jaringan karang hidup di kawasan tersebut, menambah karang yang memutih. Lantas, apa lagi tentang siput Drupella ini?. Untuk menambah wawasan kita, mari kita tengok ulasan dibawah:

Bagaimanakah wujud Drupella?


Cangkang Drupella sp. setelah dibersihkan.


Drupella di meggerogoti karang masif.
Warna merah muda akibat cangkang mereka dilingkupi alga koralin.
(Foto: WWF Hongkong)


Cabang karang Acropora saat digerogoti Drupella

sehingga memutihkan karang akibat dimangsanya jaringan hidup karang.

(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)



Jaringan polip karang masif sedang digerogoti Drupella.


Berbagai ukuran Drupella.
(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)

Sejak kapan Kita tahu ancaman Drupella bagi terumbu karang?

Kasus kerusakan karang skala besar akibat Drupella pertama kali tercatat di tahun 1976 di pulau Miyake-Jima, Jepang bagian selatan (Moyer et al 1982). Kasus merebaknya Drupella (outbreak) juga pernah menyebabkan kerusakan karang yang luas di Filipina (Moyer et al 1982), Kepulauan Marshall (Boucher 1986), juga di barat Australia (Ayling & Ayling, 1987; Forde 1992; Osborne, 1992; Black & Johnson, 1994).

Bagaimanakah cara Drupella memangsa karang?

Ciri kerusakan biologis karang akibat prilaku koralivora Drupella (baik intensitas dan luasnya) cenderung serupa dengan dampak yang disebabkan Acanthaster planci (Bulu Seribu) (Moyer et al., 1982; Ayling & Ayling, 1987).

Drupella memilih mangsanya (umumnya koloni karang) karena berbagai alasan - yang cukup kompleks – diantaranya: bentuk pertumbuhan koloni karang, kemudahan mereka untuk mengambil jaringan karang yang hidup, produksi lendir dari karang, nilai nutrisi jaringan karang juga kemampuan pertahanan nematosit (sel penyengat) dari karang itu sendiri (Morton et al., 2002).

Jenis karang yang disukai Drupella umumnya karang bercabang dan foliosa, berpolip kecil dan menjulur tinggi (Moyer et al., 1982; Turner, 1994a). Namun, ini tidak menutup kemungkinan mereka untuk memangsa jaring karang masif, seperti yang terjadi di kepualuan Hongkong; meskipun karang bercabang hampir habis dan kualitas air menurun akibat perikanan merusak dan polusi (Morton dan Blackmore 2008).

Struktur mulut dan gigi (radula) siput laut Drupella mampu menembus pertahanan sel penyengat (nematosit) dari karang. Saat memangsa jaringan karang, otot mulut mereka mampu menjulur untuk mengambil jaringan polip hidup karang. Tubuh mereka juga terlapisi semacam lendir sehingga sel penyengat karang tidak bisa menembus ke jaringan halus Drupella (Robertson, 1970). Dimulut mereka juga terdapat gigi halus berbuku-buku (radula) yang diduga juga mendukung ketahanan mereka melawan sel penyengat karang (Fujioka, 1982).

Apakah diugaan ilmuwan saat ini tentang pemicu merebaknya Drupella?

Di tahun 2008, Morton dan Blackmore malakukan penelitian pada dua jenis gastropoda koralivora (Drupella rugosa dan Cronia margariticola). Analisa statistik mereka di 5 pulau di perairan Hongkong menunjukkan bahwa pola makan dan kelimpahan kedua Gastropoda ini terkait dengan temperatur air laut. Menjelang musim panas kelimpahan dan pola makan mereka meningkat, lebih tinggi dibandingkan saat musim dingin.

Drupella rugosa memiliki siklus hidup panjang dan relatif lamban pertumbuhannya (Black & Johnson, 1994; Turner, 1994a). Hal ini terkait dengan kelimpahan mereka yang musiman. Dalam siklus tahunan, ketika memasuki musim panas di pesisir bagian dalam, Drupella teramati bergerak keluar pasir menuju tempat karang berada. Diduga spesies ini tumbuh dan berkembang di dalam pasir saat musim dingin (saat temperatur air laut rendah) (Morton dan Blackmore 2008).

Gastropoda predator semacam Drupella mampu mendeteksi makanan mereka melalui mekanisme kemoresepsi (chemoreception) (Kohn, 1961). Dengan ini mereka bisa mengetahui keberadaan dan arah mangsa yang potensial bagi mereka (seperti karang) dari zat kimia yang dilepas dari calon mangsa (Kohn, 1961, 1983). Karang genus Acropora dan Montipora menjadi favorit Drupella mungkin terkait dengan zat aktif terkanding dalam karang tersebut yang membagkitkan selera Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini?

Hingga saat ini belum ada solusi yang paling efektif dalam mengendalikan populasi gastropoda koralivora, seperti Drupella sp. salah satunya. Bahkan di Great Barrier Reef, Australia, dimana konservasi dan pengelolaan terumbu karang terluas dan terbaik di dunia saat ini; belum memiliki solusi tepat dalam mengatasi kemunculan Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini? Jika dibandingkan dengan pemutihan karang masal (akibat pemanasan global), serta kerusakan fisik karang (terus berjalan akibat pola hidup dan budaya Kita); matinya karang akibat Drupella berdampak relatif kecil. Drupella menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Bulu seribu menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Semua komponen biota di ekosistem terumbu karang berjalan sesuai tugasnya masing-masing.

Satu lagi yang perlu dicatat ialah Kita, manusia, sejalan dengan pola hidup dan budaya yang kita banggakan saat ini, serentak terus memberikan kontribusi dalam perubahan iklim. Kita memiliki kekuatan besar dalam meng-kacau-kan iklim bumi. Laut semakin memanas, bumi menerima radiasi matahari semakin tinggi – menyiksa seluruh organisme di udara, darat, dan laut. Biota ekosistem yang sedang menjalankan tugasnya masing-masing terganggu. Ada yang tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan lingkungan (temperatur laut lebih tinggi dari normal - karang memutih), ada juga yang terpicu untuk melakukan tugasnya secara ekstrim (temperatur laut lebih tinggi dari normal- merebaknya koralivora: Drupella, Bulu Seribu).

Jika Kita ingin memutus siklus ekosistem laut resepnya sangat mudah:

  1. Terus mengkonsumsi makanan laut secara membabi-buta, tanpa pertimbangan akal sehat sehingga ikan cepat habis tanpa adanya kesempatan regenerasi.
  2. Jangan berhenti terlibat dalam perusakan kawasan terumbu karang baik secara fisik, kimiawi, langsung, maupun tidak langsung dan utamakan selalu untuk kepentingan kenyamanan diri, perut, harta dan kekuasaan serta selalu ber-orientasi jangka pendek, tidak memperdlikan nasib anak cucu.
  3. Jangan bosan-bosan menghamburkan listrik, bensin dan terus mengeemisi gas rumah kaca; karena semakin cepat iklim dunia terganggu dan memanas, semakin kacau pula tiap spesies dalam menjalankan tugasnya, semakin tidak stabil ekosistem terumbu karang.
  4. Jangan mau berkorban untuk lingkungan dan anak cucu ketika kenyamanan, harta, kekuasaan serta ketidak-pernah-puasan masih dalam prioritas kultur dan keseharian Kita.
Referensi
[Silahkan hubungi lautkita@gmail.com jika menginginkan list referensi tersitasi dalam posting ini].

Unduh lembarfakta
Untuk lembarfakta tentang pemutihan karang dari TERANGI dalam file PDF klik disini.