Tampilkan postingan dengan label Pemutihan Karang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemutihan Karang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

Ancaman perubahan iklim terhadap pemutihan karang serta dampaknya bagi Nelayan Indonesia

Danie Almalik

Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan iklim tropis sebab letaknya di antara 6° LU dan 11° LS, yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Iklim dan posisi geografis ini yang membuat Indonesia salah satu Negara paling kaya akan keanekaragaman dan kelimpahan hayati terutama di lautan. Indonesia telah disebut sebagai megacenter of biodiversity karena keanekaragaman terumbu karang mencapai lebih dari 480 spesies karang keras mencakup 60% dari spesies karang yang telah di identifikasi didunia, dan keanekaragaman ikan karang mencapai lebih dari 1650 spesies.

Hal ini menguntungkan masyarakat Indonesia sendiri khususnya masyarakat pesisir yang umumnya bekerja sebagai nelayan karena akan berdampak dalam perkembangan sosial-ekonomi mereka. Hal ini diperkuat dengan data Direktorat Jendral Perikanan tahun 2000 yang menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah masuk dalam Negara-negara penangkap ikan utama di urutan ke-enam setelah Peru, Rusia, USA, Jepang, dan China dengan jumlah tangkapan mencapai 3,70 juta ton per tahunnya.

Peta Indonesia sebagai negara kepulauan.
(Sumber: Wikipedia)
Namun saat ini bumi telah mengalami perubahan pola iklimnya sebab perubahan komposisi gas di lapisan atmosfer yang menyelimuti bumi. Beberapa jenis gas ini disebut ‘gas rumah kaca’ sebab sifatnya yang memerangkap energi panas serta mengatur suhu bumi. Dalam bidang agrikultur, rumah kaca adalah bangunan berdinding dan atap kaca yang digunakan petani untuk menjaga kesetablilan suhu untuk menumbuhkan jenis-jenis tanaman tertentu di dalamnya.

Terkait ini, ‘efek rumah kaca’ adalah fenomena penghangatan permukaan bumi dan lapisan di bawah atmosfer yang bersumber dari energi matahari. Energi matahari masuk ke bumi melalui lapisan atmosfer yang transparan, tanpa mengalami perubahan dan kemudian memanaskan permukaan bumi. Namun radiasi infra merah yang terlepas dari permukaan bumi sebagian diserap oleh beberapa jenis gas di atmosfer. Karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu gas rumah kaca. Secara alami gas  CO2    terkandung secara diudara dalam jumlah kecil dan aman bagi manusia. 
Efek rumah kaca.
(Sumber: Coralwatch)
Prof. Stephan I Zeeman dari University of New England Department of Marine Science dalam seminar nasional yang berjudul ‘Impact of Global Climate Change on Marine Resources Conservation’ pada tanggal 12 maret 2015 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang menyampaikan bahwa pada ilmuan sepakat bahwa salah satu penyebab perubahan iklim adalah manusia. Pembakaran minyak bumi dan batu bara oleh manusia telah meningkatkan jumlah CO2  yang dibebaskan ke atmosfer melebihi keadaan di masa sebelum Revolusi Industri. Data yang direkam bulan Februari 2015 ini dari Mauna Loa Observatory di Institute of Oceanography menunjukkan bahwa konsentrasi CO2  di atmosfir Bumi sudah mencapai 399.85 ppm (bagian- per-juta/part-per-million) pada sudah melampui batas aman bagi bumi yaitu 350 ppm.

Peningkatan gas rumah kaca mengakibatkan diantaranya peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi. Peningkatan suhu dan konsentrasi CO2 di atmosfer memiliki efek yang sangat besar terhadap pola iklim dan cuaca. Prof. Stephan I Zeeman juga menyebutkan dampak perubahan iklim diantanya adalah banjir, erosi pantai, badai yang lebih besar. Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan laut seperti pemutihan karang, dan kerusakan habitat. Bapak Purwanto dari The Nature Conservancy untuk Indonesia dalam seminar yang sama menjelaskan saat ini salah satu ancaman besar dari dampak perubahan iklim di Indonesia adalah pemutihan karang.

Zooxanthella yang hidup bersimbiosis dalam lapisan jaringan hidup hewan karang (lihat inset kanan).
(Sumber: (Dean & Kleine, 2011)
Peningkatan suhu menjadi penyebab utama terjadinya pemutihan karang, sejenis alga mungil ber-sel tunggal yang di sebut 'zooxhantella' hidup didalam lapisan terdalam (gastrodemis) hewan karang yang sehat. Zooxhantella memberi nutrisi pada karang sekaligus memberi warna pada karang. Sebaliknya karang berperan sebagai inang bagi zooxhantella untuk hidup dalam sebuah hubungan yang menguntungkan. Bila karang terganggu dan mengalami stress, alga ini akan terlepas sehingga warna karang akan memucat, inilah yang disebut ‘pemutihan karang’ atau coral bleaching.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang paling produktif di lautan. Hal ini menjadikan terumbu karang sebagai ekosistem dengan potensi keragaman spesies biota yang paling tinggi dilaut sekaligus memegang nilai ekonomis sangat tinggi. Terumbu karang merupakan habitat bagi ratusan jenis ikan-ikan karang. Termasuk diantaranya ikan karang komersil bernilai ekonomis tinggi, seperti ikan kerapu, ikan kakap merah, dan ikan karang ekonomis lainnya.

Pemutihan pada hewan karang jenis Acropora sp.
(Sumber: Ekspedisi Corallium XVI – Pulau Nyamuk, Kep. Karimunjawa. MDC)
Fenomena pemutihan karang yang semakin sering terjadi dan semakin meluas membuat terancamnya masyarakat Indonesia terutama masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Rusaknya terumbu karang sebagai tempat berlindung, mengasuh, dan mencari makan bagi ikan; berarti hilangnya potensi regenerasi ikan di masa depan; serta ancaman bagi aset ikan yang penting mata pencaharian bagi nelayan dan masyarakat pesisir lainnya saat ini dan di masa depan.

Dalam kurun waktu yang sulit diperkirakan, dan perubahan yang sulit dideteksi, semakin seringnya pemutihan karan akan membuat hasil tangkapan nelayan menurun dan akan berdampak pada peralihan pola ekploitasi laut sehat menjadi ekploitasi yang tidak sehat.

Sayangnya, perubahan iklim, seperti pemanasan atmosfir adalah proses yang perlahan terjadi. Dampak perubahan iklim pada lautan yang terjadi saat ini merupakan imbas emisi gas rumah kaca manusia di masa lalu. Imbas emisi kita lepas saat ini baru akan dirasakan dampaknya di masa depan, oleh generasi selanjutnya. Kita sebagai masyarakat Indonesia yang sudah mengetahui konsekuensi dari perubahan iklim global terhadap laut kita, sepatutnya bisa memberikan harapan di tingkat lokal.

Diantara kegiatan yang bisa kurangi emisi gas rumah kaca adalah membantu carikan solusi penghidupan bagi masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya dengan menebang hutan mangrove secara berlebihan, serta menangkap ikan dengan cara yang merusak karang. Termasuk juga aktif andil dalam penanaman ulang hutan dan mangrove serta tanaman-tanaman lain yang menjadi paru-paru Bumi. Selain itu kita juga bisa mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mulai hemat bahan bakar untuk mengurangi polusi yang menambah gas rumah kaca di atmosfer.

Banyak hal kecil di keseharian kita yang bisa membari harapan besar bagi lingkungan, termasuk karang dan Nelayan. Mari jaga Laut kita selagi kita dapat menikmatinya!

Senin, 28 April 2014

Ledakan populasi bulu seribu di terumbu karang: Apa penyebabnya?


Saat ini penyebab pasti ledakan populasi bulu seribu di terumbu karang masih belum ditetapkan oleh para ilmuwan. Sejauh ini ada tiga teori utama penyebabnya, namun masih belum ada landasan bukti valid untuk mendukung atau menolak bukti ini.

Bulu seribu / crown-of-thorns starfish / Acanthaster planci.
Foto: MattWright

Teori Pertama: Fluktuasi alami

Bulu seribu, bintang seribu, atau crown-of-thorns starfish mampu menghasilkan 1 milyar telur, hanya dari satu siklus hidup seekor betina. Perubahan keadaan lingkungan laut mempengaruhi kelulushidupan 'bayi-bayi' bulu seribu.

Sebagai gambaran, dengan jumlah sebesar ini, andaikan saja peluang selamat satu larva setiap satu milyar telur meningkat, menjadi satu larva setiap sepuluh juta 'saja', maka satu generasi bisa meningkat pupulasinya sepuluh kali lipat.

Hanya 'sedikit' saja bulu seribu yang memijah (melepas telur) maka peluang untuk menghasilkan generasi penerusnya masih sangat besar dan hingga berlipat ganda.

Dalam skala lokal, perubahan temperatur air, salinitas atau ketersediaan makanan plankton di perairan - semuanya bisa mendongkrak kelulushidupan larva bulu seribu. Dalam skala laut besar, ada beberapa dugaan ilmiah bahwa ledakan populasi bulu seribu juga berkaitan dengan fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang merubah iklim lokal di sekitar Samudera Pasifik.

Populasi bulu seribu yang merebak dalam waktu singkat ('ledakan' / outbreak) tampak sedang menyelimuti terumbu sembari menggerogoti jaringan koral hidup dibawahnya.
Foto: The Benshi.com

Teori Kedua: Menghabisnya predator

Bukan predator si alien, melainkan biota di laut yang suka memakan bulu seribu. Di laut, predator bulu seribu tidak banyak. Mungkin mereka takut sariawan jika mengunyah bulu seribu. Namun diantaranya adalah: siput laut triton (giant triton snail), ikan napoleon (humphead wrasse), ikan buntal (starry pufferfish).

Siput laut triton bernilai tinggi dan sebelum dilindungi di tahun 1969 mereka kerap ditangkap dan diperdagangkan. Jumlah siput triton di terumbu tergolong rendah. Selain itu, siput triton hanya mampu memangsa satu bulu seribu tiap minggu sehingga kemampuannya untuk mengendalikan ledakan populasi bulu seribu terbilang terbatas.

Ikan napoleon juga dikenal aktif sebagai predator bulu seribu. Namun ikan ini juga bernilai tinggi dan saat ini dilindungi dan tidak boleh ditangkap dan diperdagangkan.

Di terumbu karang, ada ikan-ikan yang senang memangsa bintang laut yang masih kecil. Bintang laut juvenil ('bayi') yang menjadi makanan ikan biasanya yang berusia enam tahun setelah mereka melekat di terumbu dan baru saja mulai memangsa karang hidup. Jika jumlah ikan pemangsa bintang laut menghabis akibat aktifitas perikanan maka situasi ini memungkinkan jumlah bulu seribu juvenil yang tumbu dewasa dalam jumlah yang 'abnormal'.

Namun saat ini belum ada bukti kuat bahwa ikan-ikan yang ditangkap untuk komersil memangsa juvenil bulu seribu dalam jumlah banyak. Kabari kami jika ada temuan yang mendukung ini. 

Terbatasnya bukti juga disebabkan jumlah larva bulu seribu yang bertahan hidup lalu melekat di dasar-pun belum diketahui. Selain itu sulit juga untuk memperkirakaan laju pemangsaaan predator mereka di lapangan. Seberapa besar laju predasi yang diperlukan untuk mencegah ledakan populasi bulu seribu - masih menjadi pertanyaan. Ini bisa menjadi pertanyaan kunci untuk memulai riset.

Teori ketiga: Pengaruh manusia terhadap kualitas air

Banyak laporan ilmiah dari penjuru dunia yang menegaskan adanya hubungan antara curah hujan tinggi yang berkepanjangan dengan mulainya ledakan bulu seribu. Curah hujan tinggi yang berkepanjangan yang menyusuli kemarau, atau musim panas yang berkepanjangan, membuat salinitas air laut menurun dan kaya akan jumlah sedimen dan zat hara (nutrien) yang dibawa dari daratan ke laut - seperti melalui banjir.

Tingkat nutrien yang tinggi mampu meningkatkan jumlah alga mikroskopis di air, yang menjadi makanan larva bulu seribu. Keadaan ini memungkinkan semakin banyak larva bulu seribu yang lulus hidup dan populasi bulu seribu dewasa yang lebih besar. Rendahnya salinitas air juga meningkatkan kemungkinan terjadinya keadaan ini.

Sebab ini, banjir yang membawa run-off dari daratan ke laut bisa memicu ledakan populasi bulu seribu. Namun, saat ini jumlah sedimen dan nutrien yang bermuara di pesisir sudah tidak alami lagi sebab pengaruh aktifitas manusia di daratan. Tingginya nutrien akibat asupan bahan organik dan anorganik dari polusi bisa andil mendukung kelulushidupan larva, atau meningkatkan frekuensi kejadian ledakan populasi.

Foto: Kayal et al. 2012
Foto: Kayal et al. 2012
Kita tidak mau terlalu sering adanya ledakan populasi bulu seribu

Kenapa? Sebab makanan mereka adalah karang hidup, atau koral, yang masih hidup. Mulut radial di tengah tubuh mereka senang mencaplok jaringan lunak hidup dipermukaan karang. Hanya bekas kerangka keras putih dari karang yang mereka sisakan setelah itu. Ketika mereka 'meledak' dalam jumlah banyak, terumbu karang yang berwarna-warni bisa menjadi putih dalam waktu singkat. Kita bicara luasan satu hingga ratusan meter persegi. Dengan kombinasi polusi laut, penangkapan ikan berlebih, dan terdampaknya laut oleh perubahan iklim global, peluang terumbu karang yang rusak untuk pulih sangat kecil.

Ledakan populasi bulu seribu mungkin sudah bagian dari siklus alami laut, namun aktifitas manusia terhadap pesisir dan laut telah bisa membuat 'ledakan yang abnormal'.

Apa yang kita lakukan di darat kembali ke laut.

Referensi
  • CRC Reef Research Centre. What causes crown-of-thorhs starfish outbreaks? 
  • Kayal M, Vercelloni J, Lison de Loma T, Bosserelle P, Chancerelle Y, et al. (2012) Predator Crown-of-Thorns Starfish (Acanthaster planci) Outbreak, Mass Mortality of Corals, and Cascading Effects on Reef Fish and Benthic Communities. PLoS ONE 7(10): e47363. doi:10.1371/journal.pone.0047363





Jumat, 14 Desember 2012

Kurangi limbah kimia berarti bantu terumbu karang hindari pemutihan

Berpikirlah 10 kali saat banyak-banyak menggunakan produk kimia. Baik di kota, ataupun di pesisir dan pulau, lepasan zat anorganik nitrogen dari produk kimia untuk perawatan dan sanitasi tubuh kita, jika terlepas ke perairan, maka kelangsungan hidup terumbu karang lebih rentan alami pemutihan.



Penelitian dari the University of Southampton (US) dan the National Oceanography Centre di Southhampton ungkap bahwa koral (karang) akan lebih rentan terhadap pemutihan (bleaching) jika terjadi ketidak seimbangan nutrian (zat hara) di perairan terumbu hidup.

Koral tersusun atas banyak polip yang terhubung satu dengan lain membangun jaringan hidup yang melapisi kerangka berkapur. Pertumbuhan jaringan tubuh koral bergantung pada alga ber-sel-satu disebut zooxanthellae, yang juga bersimbiosis dengan hidup di dalam jaringan polip karang.

Koral bersama zooxanthellae yang bernaung di dalamnya bergantung satu dengan lain. Sementara koral memberi alga zat hara dan tempat tinggal; alga, sebagai gantinya, menyediakan produk zat hara dari fotosintesis, yang menjadi sumber energi untuk pertumbuhan jaringan koral.

Suhu air yang tinggi - khususnya akibat pemanasan global yang sebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan air laut di berbagai belahan dunia - dapat menghalangi reaksi fotosintesis yang dilakukan alga. Alhasil, terjadi penumpukan komponen oksigen yang beralih fungsi menjadi racun. Keadaan ini mengancam kesehatan jaringan tubuh koral dan memicu pelepasan zooxanthellae dari koral.

Tanpa alga tersebut, koral tampak putih - keadaan yang disebut sebagai 'bleaching'. Bleaching bisa sebabkan kematian koral, dan pemutihan koral yang terjadi masal mampu berikan dampak buruk pada fauna dan flora bergantung pada habitat terumbu yang dibentuk dari sehatnya pertumbuhan koral.

Sumber: Great Barrier Reef Marine Park Authority
Hasil kajian dari US tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change. Peneliti temukan bahwa pengayaan nutrien (zat hara) di perairan mampu tingkatkan kemungkinan koral alami bleaching yang disebabkan suhu perairan yang tinggi.

Di dalam koral, pertumbuhan zooxanthellae dibatasi oleh jumlah asupan zat hara. Asupan zat hara tersebut dimanfaatkan untuk metabolisme alga yang juga berperan mengirimkan sejumlah ikatan karbon hasil fotosintesis-nya untuk koral inang mereka.

Namun, keseimbangan pertumbuhan alga (zooxanthellae) terganggu saat ketersediaan zat hara tertentu berkurang jauh dibawah kebutuhan fotosintesis jaringan sel alga. Keadaan ini disebut kelaparan zat hara atau nutrient starvation.

Peneliti dari US temukan bahwa saat suplai dari kandungan nitrogen terlarut lebih tinggi dibanding kandungan fosfat yang saat itu sedang rendah dan terbatas, maka alga dalam status kelaparan fosfat. Keadaan ini selanjutnya akan memicu penurunan efisiensi proses fotosintesis alga, dan meningkatkan kerentanan koral mengalami pemutihan yang dipicu peningkatan suhu dan intensitas cahaya.

Penelitian yang dipimpin Dr Jörg Wiedenmann ini menduga kuat bahwa dampak terburuk pada kesehatan koral bukan datang dari penambahan berlebih dari satu kelompok zat hara saja, misalnya nitrogen, namun juga berkombinasi dengan penghabisan zat hara lain, seperti fosfat, yang diakibatkan kebutuhan tinggi dari populasi zooxanthellae yang juga bertambah.

Temuan ini memberi penegasan bagi kita pentingnya pengelolaan pesisir kita untuk meredam dampak perubahan iklim. Dengan menjaga keseimbangan zat hara perairan di pesisir, maka kita andil dalam mitigasi dampak perubahan suhu laut terhadap terumbu karang.

Meminimalisir, atau bahkan menghentikan buangan limbah kita, mulai tinja, hingga limbah kimia rumah tangga dan industri - kesemuanya yang mampu mengganggu kesetimbangan zat hara di perairan, termasuk nitrogen dan fosfat - otomatis akan bantu terumbu karang bertahan menghadapi dampak perubahan iklim.

Toh jika kita efektif mengelola limbah, itupun efektif dalam jangka waktu pendek. Keutuhan tekad umat manusia dan bangsa-bangsa - cari tahu: KTT Perubahan Iklim Ke-18 di Doha, Qatar - dalam mengurangi drastis emisi gas rumah kaca juga tidak kalah penting dan kritis peranannya untuk meredam laju pemanasan global, menjamin terumbu karang tetap ada di masa depan.

Referensi:

Jörg Wiedenmann, Cecilia D’Angelo, Edward G. Smith, Alan N. Hunt, François-Eric Legiret, Anthony D. Postle, Eric P. Achterberg. Nutrient enrichment can increase the susceptibility of reef corals to bleaching. Nature Climate Change, 2012; DOI: 10.1038/nclimate1661





Selasa, 16 Oktober 2012

Terlalu banyak alga 'penolong' bisa berdampak buruk pada koral

Hamparan karang keras sehat bercabang Acropora sp. di Yapen, Papua Barat, Indonesia.
Foto: © Matthew Oldfield 2005

Studi terkini dari ilmuwan Ross Cunning dan Andrew Baker sari Universitas Miami (UM) temukan bahwa jika Koral (karang) terlalu banyak mengandung alga yang bersimbiosis bisa jadi lebih rentan akan dampak perubahan iklim.

Didalam jaringan Koral (hewan di dasar terumbu yang masih banyak keliru dianggap sebagai tanaman), hidup alga (tanaman) ber-sel-satu yang juga jadi kunci kelangsungan hidup hewan Koral sendiri.
Pembesaran mikroskopis alga bersel-satu (bintik coklat) dalam jaringan polip hewan Koral (struktur transparan) yang sedang menjulur dari kerangka Koral.
Foto: Maricopa
Namun, saat temperatur air disekitar terlalu hangat, alga-alga ini terlepas dari Koral. Proses ini menjadi salah satu penyebab terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan bisa sebabkan kematian karang masal dan luas.

Hingga kini, beberapa peneliti beranggapan Koral dengan jumlah sel alga simbion yang lebih banyak akan lebih toleran dengan pemutihan dengan anggapan mereka 'punya cadangan alga banyak untuk dikorbankan'.

Namun temuan baru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change ini ungkap bahwa semakin banyak alga simbion dalam Koral, semakin parah kondisi pemutihan yang Koral alami. Peneliti beranggapan bahwa, di alam, jika terlalu banyak hal-hal yang baik ternyata bisa berdampak buruk. 



Penelitian Ross dan rekan juga amati bahwa jumlah alga yang menetap dalam jaringa koral berubah-ubah selama masa hidup Koral. Dengan ini, tingkat resiko Koral terhadap pemutihan karang-pun juga tidak tetap dan bervariasi.

Dalam penelitian mereka, Koral Kembang Kol (Pocillopora damicornis) dari teluk Pasifik di Panama. Selama enam bulan koral terus dipantau dalam laboratorium Experimental Hatchery di UM. Selama intu sampel Koral perlahan dihangatkan hingga akhirnya memutih. Jumlah sel alga yang bersimbiosis di dalam Koral ditinjau dengan analisa sampel DNA dengan teknik genetika kepekaan tinggi yang bisa tentukan perbandingan sel alga dengan sel koral. Kemajuan teknik pengukuran ini memungkinkan mereka melihat bahwa Koral dengan lebih banyak alga lebih parah alami pemutihan ketimbang dengan yang lebih sedikit. 

Koral Kembang Kol Pocillopora damicornis.
Foto: loiczsouthasia.org
Laporan penelitian kemukakaan juga implikasi temuan dalam konservasi. Koral akan lebih rentan terhadap pemutihan jika berada dalam lingkungan dengan jumlah alga simbion yang banyak di sekitarnya, seperti terumbu dekat pesisir yang tercemar oleh zat anorganik dari air buangan limbah dan lepasan air dari daratan (runoff).

Pencemaran perairan, di satu sisi, berasal dalam kawasan lokal. Namun, perlu diingat kita punya tekanan di tingkat global dari efek perubahan iklim. Menjaga kualitas perairan akan membeli waktu banyak untuk terumbu karang menghindar dari efek terburuk pemanasan global. Belum lagi ada efek pengasaman laut (ocean acidification) sebab semakin tingginya emisi karbondioksida yang melarut ke laut, yang melapukkan biota berkapur seperti Koral. Ini juga menjadi faktor tambahan yang pengaruhi kerentanan Koral terhadap pemutihan, disarikan dari laporan penelitian.

Referensi:

Ross Cunning, Andrew C. Baker. Excess algal symbionts increase the susceptibility of reef corals to bleaching. Nature Climate Change, 2012; DOI: 10.1038/nclimate1711


Sabtu, 13 November 2010

Masa kelam terumbu karang: Garis besar solusi untuk terumbu karang dunia yang terus menghilang.

Terumbu karang dunia sedang bermasalah. Sebab berbagai faktor seperti pengasaman laut, naiknya temperatur akubat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih dan polusi - tutupan karang dunia telah munurun hingga sekitar 125.000 kilometer persegi dalam kurun waktu 50 tahun kebelakang. Banyak biolog laut, seperti Charlie Veron, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science, memprediksi bahwa terumbu karang akan hilang dalam satu abad kedepan. Tahun 2010 ini-pun, pemutihan karang masal, dimana karang kehilangan protozoa simbiotik-nya dan semakin rentan akan penyakit dan kematian - terjadi di sepanjang pesisir Indonesia, Filipina, dan beebrapa pulau Karibia. Namun, sebuah artikel jurnal di Trends in Ecology and Evolution mencoba mengangkat srategi untuk mengatasi keterpurukan terumbu karang, termasuk beberapa kisah sukses, untuk menyelamatkan mereka.


Atas: Tingginya dan seringnya gangguan lokal dan global pada terumbu memicu lebih seringnya pemutihan karang serta penurunan terumbu karang yang serius di penjuru dunia. Bawah: Terumbu karang yang sehat, seperti di Great Barrier Reef, juga menampung keanekaragaman hayati yang tinggi.
Foto: Atas: © Bruce Carlson; Bawah: © Great Barrier Reef Marine Park Authority


"Saat ini kita SUDAH punya pemahaman ilmiah yang cukup tentang penyebab penurunan terumbu - yang kita perlukan saat ini adalah gambaran yang lebih jelas untuk menolong mereka berbalik arah menuju keadaan optimal mereka di masa lalu, melalui pemulihan," ujar penulis utama, Terry Huges dari Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef Studies di James Cook University.

Berbagai riset dunia telah menunjukkan bahwa terumbu karang memiliki daya lenting (resiliensi) dan mampu pulih dari fenomena gangguan skala besar.

Sebagai contoh, dalam artikel dijelaskan bahwa pada situs terumbu skalal lokal di pulau Heron di Great barrier Reef hampir setiap dekade secara rutin kehilangan hampir seluruh karang-nya akibat badai. Namun tetap memiliki kemampuan pemulihan yang cukup cepat dan kecenderungan struktur terumbu berubah dan berbeda jauh dari keadaan terumbu di masa lalu sangat kecil.

Namun, dampak manusia memiliki pengaruh berbeda dibanding dampak alam, seperti badai. Terumbu karang saat in bukan lagi menghadapi gangguan atau bencana alami yang datang, mereda, dan lewat. Namun, pengaruh manusia yang ditulis sebagai "dampak manusia yang kronis", merupakan gangguan yang konstan dan bertahan dalam kurun waktu lama. Dampak manusia saat ini membuat kemampuan alami karang untuk pulih tidak bisa membandingi 'dentuman' kematian karang yang terus terpicu akibat gangguan manusia.


Mekanisme pemutihan karang. Keadaan normal (kiri) dimana alga ber-sel satu (zooxanthellae) berada di lapisan jaringan karang. Keadaan terganggu (tengah): zooxanthellae lepas dari lapisan jaringan karang. Keadaan sekarat: Karang menuju kematian sebab jaringan karang tidak tumbuh tanpa adanya zooxanthellae, dan alga halus (alga filamen) bisa tumbuh di permukaan kerangka karang yang mati. Proses ini bisa terjadi pada ribuan koloni, menyebabkan fenomena pemutihan karang masal.
Gambar: www.solcomhouse.com/coralreef.htm



"Dalam satu abad kebelakan, banyak terumbu-dekat-pantai di bagian dalam Great Barrier Reef telah tertutupi sedimen dan makroalga, dan menunjukkan sedikit kemampuan atau indikasi akan pemulihan menuju kondisi semula yang 'kaya karang", tulis para peneliti.



Kiri: Terumbu yang memiliki resiliensi / daya lenting tinggi dengan struktur yang kaya akan karang hidup keras. Kanan: Terumbu yang sudah mengalami gangguan dimana struktur sudah berubah dimana komposisi makroalga melampaui jumlah karang keras. Membantu terumbu berbalik dari kanan ke keadaan di kiri adalah salah satu tugas kita dalam mengelola terumbu saat ini.
Foto: Kiri: © E. Turak; Kanan: © A. Hoey


Terry Hughes berkata, "kunci untuk menyelamatkan terumbu terletak di dalam pemahaman kita mengapa beberapa terumbu mengalami degenerasi menjadi hamparan rumput laut dan tidak bisa pulih lagi - kejadian yang disebut "perubahan fase" -; sementara di terumbu lain karang-nya mampu puli kembali dengan sukses - sebuah kemampuan yang disebut daya lenting atau resiliensi.

Para peneliti juga mengangkat beberapa tempat dimana terumbu karang yang berbalik pulih akibat adanya usaha pencegahan dampak manusia terkait penurunan karang di masa lalu. Sebagai contohnya, mengakhiri buangan limbah di Teluk Kanehoe di Hawaii telah memungkinkan karang untuk pulih; kembalinya populasi bulu babi di beberapa bagian kepulauan Karibia telah memungkinkan karang untuk bangkit 'melawan' rumput laut; dan di Filipina regulasi yang lebih efektif untuk penangkapan ikan berlebih telah memungkinkan ikan kakatua untuk pulih kembali - sejenis ikan terumbu yang membantu karang pulih dengan memakan rumput laut (makroalga) kompetitor karang.



Ikan terumbu herbivora: (Arah jarum jam dari pojok atas-kiri) Ikan Kakatua, Surgeonfish, Rudderfish, Angelfish, Damselfish dan, Rabbitfish. Ikan-ikan ini berperan sebagai 'tukang rumput' di terumbu, memakan alga yang tumbuh diantara karang sehingga jumlah alga terkendali dan karang dapat ruang dan cahaya untuk tumbuh. Jika ikan ini dihidangkan  di suatu kawasandan disantap, berarti pertanda ikan perdator ekonomis sudah mulai habis ditangkap, dan ikan herbivora pun jadi incaran, kemampuan pemulihan terumbu pun terancam dan semakin rentan akan gangguan lainya. PERHATIKAN JENIS IKAN YANG ANDA SANTAP, JANGAN MAKAN IKAN-IKAN TERUMBU INI.
Foto: © Garry allen.

"Krisis terumbu karang dunia umumnya terkait juga dengan krisis kepemerintahan, sebab kita sudah tau apa yang perlu dilakukan, namun aksi atau tindakan (untuk mengurangi polusi, menekan emisi gas rumah kaca, mencegah penangkapan berlebih dan merusak) tidak dilakukan," ujar Terry Hughes.

Studi tersebut juga menyarankan agar berbagai pemerintahan untuk melibatkan para peneliti yang memahami studi daya lenting terumbu karang dalam pengembangan kebijakan terkait penyelamatan terumbu karang. Sebagai tambahan, pemerintah sebaiknya fokus dalam pendidikan masyarakat lokal, perubahan mekanisme tata guna lahan dalam mencegah lepasan polusi, memperkuat hukum untuk melindungi terumbu karang, memperbaiki pengaturan penangkapan berlebih, dan bekerja dengan institusi internasional, seperti Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dalam penyediaan perlindungan yang lebih baik bagi karang yang terancam punah.

Namun tentunya, satu bongkahan batu besar lainnya adalah perubahan iklim. Dalam masa pengasaman laut saat ini, sebab meingkatnya emeisi karbon serta menghangatnya temperatur laut - akan membawa keterpurukan terumbu karang meskipun tindakan yang mendukung daya lenting karang dilakukan.

Dalam perspektif global para peneliti mengatakan juga bahwa pemerintah negara dunia juga harus "menghadapi perubahan iklim sebagai isu utama yang paling penting bagi pengelolaan dan konservasi terumbu karang dengan menekan tajam emisi gas rumah kaca."

Terry Hughes menambahkan, "tanpa tindakan yang segera, pemanasan global dan pengasaman laut dalam waktu kedepan yang belum terlihat akan menjadi jaminan kuat gagalnya terumbu karang. Meskipun memungkinkan sekali untuk memicu pemulihan terumbu karang seusai rentetan pemutihan karang melalui tindakan lokal seperti menjaga dan meningkatkan kualitas air dan melindungi herbivora terumbu, intervensi semacam ini tidak akan menjadikan terumbu 'tahan-perubahan-iklim'."

Namun, pesan di akhir artikel tidak memberikan harapan yang kelam dan terpuruk bagi karang, melainkan: "the world's coral reefs can still be saved… if we try harder".

Terumbu karang masih bisa diselamatkan… jika kita berusaha lebih kuat lagi.

Referensi

Terry P. Hughes, Nicholas A.J. Graham, Jeremy B.C. Jackson, Peter J. Mumby, and Robert S. Steneck. Rising to the challenge of sustaining coral reef resilience. Trends in Ecology and Evolution Vol.25 No.11. doi:10.1016/j.tree.2010.07.011.

Senin, 15 Juni 2009

Ancaman predasi Drupella bagi Karang: Pentingkah?


Baru-baru ini (Mei – Juni 2009) GoBlue meliput fenomena pemutihan karang masal di kawasan Pemuteran, Bali. Tidak hanya itu, ternyata siput koralivora (pemakan karang) jenis Drupella sp. juga sedang mewabah, andil dalam menggerogoti jaringan karang hidup di kawasan tersebut, menambah karang yang memutih. Lantas, apa lagi tentang siput Drupella ini?. Untuk menambah wawasan kita, mari kita tengok ulasan dibawah:

Bagaimanakah wujud Drupella?


Cangkang Drupella sp. setelah dibersihkan.


Drupella di meggerogoti karang masif.
Warna merah muda akibat cangkang mereka dilingkupi alga koralin.
(Foto: WWF Hongkong)


Cabang karang Acropora saat digerogoti Drupella

sehingga memutihkan karang akibat dimangsanya jaringan hidup karang.

(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)



Jaringan polip karang masif sedang digerogoti Drupella.


Berbagai ukuran Drupella.
(Foto: Andrew Baird, GBRMPA)

Sejak kapan Kita tahu ancaman Drupella bagi terumbu karang?

Kasus kerusakan karang skala besar akibat Drupella pertama kali tercatat di tahun 1976 di pulau Miyake-Jima, Jepang bagian selatan (Moyer et al 1982). Kasus merebaknya Drupella (outbreak) juga pernah menyebabkan kerusakan karang yang luas di Filipina (Moyer et al 1982), Kepulauan Marshall (Boucher 1986), juga di barat Australia (Ayling & Ayling, 1987; Forde 1992; Osborne, 1992; Black & Johnson, 1994).

Bagaimanakah cara Drupella memangsa karang?

Ciri kerusakan biologis karang akibat prilaku koralivora Drupella (baik intensitas dan luasnya) cenderung serupa dengan dampak yang disebabkan Acanthaster planci (Bulu Seribu) (Moyer et al., 1982; Ayling & Ayling, 1987).

Drupella memilih mangsanya (umumnya koloni karang) karena berbagai alasan - yang cukup kompleks – diantaranya: bentuk pertumbuhan koloni karang, kemudahan mereka untuk mengambil jaringan karang yang hidup, produksi lendir dari karang, nilai nutrisi jaringan karang juga kemampuan pertahanan nematosit (sel penyengat) dari karang itu sendiri (Morton et al., 2002).

Jenis karang yang disukai Drupella umumnya karang bercabang dan foliosa, berpolip kecil dan menjulur tinggi (Moyer et al., 1982; Turner, 1994a). Namun, ini tidak menutup kemungkinan mereka untuk memangsa jaring karang masif, seperti yang terjadi di kepualuan Hongkong; meskipun karang bercabang hampir habis dan kualitas air menurun akibat perikanan merusak dan polusi (Morton dan Blackmore 2008).

Struktur mulut dan gigi (radula) siput laut Drupella mampu menembus pertahanan sel penyengat (nematosit) dari karang. Saat memangsa jaringan karang, otot mulut mereka mampu menjulur untuk mengambil jaringan polip hidup karang. Tubuh mereka juga terlapisi semacam lendir sehingga sel penyengat karang tidak bisa menembus ke jaringan halus Drupella (Robertson, 1970). Dimulut mereka juga terdapat gigi halus berbuku-buku (radula) yang diduga juga mendukung ketahanan mereka melawan sel penyengat karang (Fujioka, 1982).

Apakah diugaan ilmuwan saat ini tentang pemicu merebaknya Drupella?

Di tahun 2008, Morton dan Blackmore malakukan penelitian pada dua jenis gastropoda koralivora (Drupella rugosa dan Cronia margariticola). Analisa statistik mereka di 5 pulau di perairan Hongkong menunjukkan bahwa pola makan dan kelimpahan kedua Gastropoda ini terkait dengan temperatur air laut. Menjelang musim panas kelimpahan dan pola makan mereka meningkat, lebih tinggi dibandingkan saat musim dingin.

Drupella rugosa memiliki siklus hidup panjang dan relatif lamban pertumbuhannya (Black & Johnson, 1994; Turner, 1994a). Hal ini terkait dengan kelimpahan mereka yang musiman. Dalam siklus tahunan, ketika memasuki musim panas di pesisir bagian dalam, Drupella teramati bergerak keluar pasir menuju tempat karang berada. Diduga spesies ini tumbuh dan berkembang di dalam pasir saat musim dingin (saat temperatur air laut rendah) (Morton dan Blackmore 2008).

Gastropoda predator semacam Drupella mampu mendeteksi makanan mereka melalui mekanisme kemoresepsi (chemoreception) (Kohn, 1961). Dengan ini mereka bisa mengetahui keberadaan dan arah mangsa yang potensial bagi mereka (seperti karang) dari zat kimia yang dilepas dari calon mangsa (Kohn, 1961, 1983). Karang genus Acropora dan Montipora menjadi favorit Drupella mungkin terkait dengan zat aktif terkanding dalam karang tersebut yang membagkitkan selera Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini?

Hingga saat ini belum ada solusi yang paling efektif dalam mengendalikan populasi gastropoda koralivora, seperti Drupella sp. salah satunya. Bahkan di Great Barrier Reef, Australia, dimana konservasi dan pengelolaan terumbu karang terluas dan terbaik di dunia saat ini; belum memiliki solusi tepat dalam mengatasi kemunculan Drupella.

Perlukah Kita kuatir akan hal ini? Jika dibandingkan dengan pemutihan karang masal (akibat pemanasan global), serta kerusakan fisik karang (terus berjalan akibat pola hidup dan budaya Kita); matinya karang akibat Drupella berdampak relatif kecil. Drupella menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Bulu seribu menggerogoti karang, itu sudah tugas alami mereka. Semua komponen biota di ekosistem terumbu karang berjalan sesuai tugasnya masing-masing.

Satu lagi yang perlu dicatat ialah Kita, manusia, sejalan dengan pola hidup dan budaya yang kita banggakan saat ini, serentak terus memberikan kontribusi dalam perubahan iklim. Kita memiliki kekuatan besar dalam meng-kacau-kan iklim bumi. Laut semakin memanas, bumi menerima radiasi matahari semakin tinggi – menyiksa seluruh organisme di udara, darat, dan laut. Biota ekosistem yang sedang menjalankan tugasnya masing-masing terganggu. Ada yang tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan lingkungan (temperatur laut lebih tinggi dari normal - karang memutih), ada juga yang terpicu untuk melakukan tugasnya secara ekstrim (temperatur laut lebih tinggi dari normal- merebaknya koralivora: Drupella, Bulu Seribu).

Jika Kita ingin memutus siklus ekosistem laut resepnya sangat mudah:

  1. Terus mengkonsumsi makanan laut secara membabi-buta, tanpa pertimbangan akal sehat sehingga ikan cepat habis tanpa adanya kesempatan regenerasi.
  2. Jangan berhenti terlibat dalam perusakan kawasan terumbu karang baik secara fisik, kimiawi, langsung, maupun tidak langsung dan utamakan selalu untuk kepentingan kenyamanan diri, perut, harta dan kekuasaan serta selalu ber-orientasi jangka pendek, tidak memperdlikan nasib anak cucu.
  3. Jangan bosan-bosan menghamburkan listrik, bensin dan terus mengeemisi gas rumah kaca; karena semakin cepat iklim dunia terganggu dan memanas, semakin kacau pula tiap spesies dalam menjalankan tugasnya, semakin tidak stabil ekosistem terumbu karang.
  4. Jangan mau berkorban untuk lingkungan dan anak cucu ketika kenyamanan, harta, kekuasaan serta ketidak-pernah-puasan masih dalam prioritas kultur dan keseharian Kita.
Referensi
[Silahkan hubungi lautkita@gmail.com jika menginginkan list referensi tersitasi dalam posting ini].

Unduh lembarfakta
Untuk lembarfakta tentang pemutihan karang dari TERANGI dalam file PDF klik disini.