Kamis, 02 Desember 2010

Diver sejati: Penyu Belimbing yang pandai mengatur daya apung tubuh.

Penyu Belimbing sedang merapat di pantai.
Foto: endangered.nothingbut830.com

Penyu Belimbing memiliki kemampuan selam yang unik. Mereka dengan rutin menyelam hingga kedalaman ratusan meter dan diketahui hingga mencapai 1250 meter. Penyu Belimbing diduga menempuh kedalaman untuk menghindari predator, mencari mangsa dan menghindari panas di kawasan tropis. Namun, kemampuan mereka dalam mengatur daya apung / buoyancy (baca: 'boyansi') masih dipertanyakan.

Penyu Belimbing menuju ke kedalaman


Sabrina Fossette dari Swansea University menjelaskan bahwa tidak ada orang mengetahui sebelumnya bagaimana penyu menyelam: Apakah mereka berenang/mengayuh langsung ke kedalaman, ataukah mereka menurunkan daya apung mereka dan turun layaknya batu?. Penasaran akan cara penyu Belimbing turun ke kedalaman, Rory Wilson dan kolaborator riset, Molly Lutcavage, mencoba menempatkan data logger (alat perekam kondisi lingkungan) pada penyu Belimbing betina saat mereka merapat untuk bertelur di St Croix, kepulauan US Virgin. Mereka menemkan bahwa penyu Belimbing megatur daya apung dengan menyesuaikan jumlah udara yang mereka ambil sesaat sebelum turun ke bawah.

Penemuan mereka diterbitkan di Journal of Experimental Biology, 12 November 2010 lalu. " Sangat mengagumkan ketika anda melihat penyu Belimbing keluar dari air, bagaikan dinosaurus," ujar Fossette, sesaat pulang dari mengumpulkan data di Samudera Hindia. Fossette, Andy Myers, Nikolai Lebssch dan Steve Gardner menempelkan akselerometer pada lima betina saat mereka lepaskan telur. 8-12 hari kemudian untuk penyu-penyu kembali kepantai lagi untuk melepaskan telur lagi dan kembali ke laut dan saat itulah akselerometer di ambil kembali. Mereka menemukan bahwa hanya dua data dari lima rekaman akselerometer yang bisa diolah. Dari alat perekam data yang berfungsi didapatkan catatan 81 selaman dan setelah dianalisa tim, kedalaman tercatat mulai 64 meter hingga 462 meter.

Penyu Belimbing sedang menetaskan telur di pantai.

Kembali di Universitas Swansea, tim riset menganalisa data temperatur dan tekanan air laut serta akselerasi saat renang yang dicatat oleh logger. Fossette menjelaskan bahwa saat di kedalaman penyu Belimbing juga berenang dan untuk pertamakalinya aktifitas lokomotor penyu saat selam dalam bisa tercatat.

Dari data akselerasi, gerakan penyu Belimbing saat menyelam ke kedalaman menukik dengan sudut rata-rata 41 derajat. Dalam awalan renang-nya, kayuhan lengan sirip penyu bisa membawa penyu melaju selama 3 detik. Namun ketika mereka turun semakin dalam lagi, tenaga kayuhan mereka berkurang hingga tidak berenang sama sekali sesaat daya apung mereka negatif dalam kedalaman maksimum yang mereka capai. Tim riset menemukan bahwa penyelam terdalam memiliki daya apung yang juga lebih lama juga dan cenderung memulai meluncur (gliding) ketika memasuki kawasan paling dalam. Tim riset menduga bawha penyu mengatur daya apung mereka sebelum turun menyelam dengan mengeatur jumlah udara yang mereka ambil di permukaan. Fossette juga mengatakan bahwa dari 80% dari selaman penyu penetas ke dasar, merekacenderung meluncur ketimbang berenang, yang diduga untuk menyimpan energi yang juga penting untuk produksi telur.

Penyu Belimbing kembali kelaut seusai melepaskan telur.

Tim riset saat ini tertarik untuk melihat pola selam Penyu Belimbing di kawasan ruaya mereka di laut Atlantik Utara. Fossette menerangkan juga bahwa telur penetas kehilangan berat badan, sedang kan penyu peruaya cenderung menambah berat badan dari makan; dan dua hal ini mempengaruhi daya apung dan prilaku selam masing-masing penyu. Namun, untuk penyu peruaya, penempelan logger (tagging) pada penyu seberat 400 kilogram dilakukan langsung di laut lepas, tidak bisa di pantai sebagaimana pada penyu penetas, dan itu satu tantangan teknis terbesar dalam penelitian mereka.



Referensi

S. Fossette, A. C. Gleiss, A. E. Myers, S. Garner, N. Liebsch, N. M. Whitney, G. C. Hays, R. P. Wilson, M. E. Lutcavage. Behaviour and buoyancy regulation in the deepest-diving reptile: the leatherback turtle. Journal of Experimental Biology, 2010; 213 (23): 4074 DOI: 10.1242/jeb.048207

Sabtu, 13 November 2010

Masa kelam terumbu karang: Garis besar solusi untuk terumbu karang dunia yang terus menghilang.

Terumbu karang dunia sedang bermasalah. Sebab berbagai faktor seperti pengasaman laut, naiknya temperatur akubat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih dan polusi - tutupan karang dunia telah munurun hingga sekitar 125.000 kilometer persegi dalam kurun waktu 50 tahun kebelakang. Banyak biolog laut, seperti Charlie Veron, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science, memprediksi bahwa terumbu karang akan hilang dalam satu abad kedepan. Tahun 2010 ini-pun, pemutihan karang masal, dimana karang kehilangan protozoa simbiotik-nya dan semakin rentan akan penyakit dan kematian - terjadi di sepanjang pesisir Indonesia, Filipina, dan beebrapa pulau Karibia. Namun, sebuah artikel jurnal di Trends in Ecology and Evolution mencoba mengangkat srategi untuk mengatasi keterpurukan terumbu karang, termasuk beberapa kisah sukses, untuk menyelamatkan mereka.


Atas: Tingginya dan seringnya gangguan lokal dan global pada terumbu memicu lebih seringnya pemutihan karang serta penurunan terumbu karang yang serius di penjuru dunia. Bawah: Terumbu karang yang sehat, seperti di Great Barrier Reef, juga menampung keanekaragaman hayati yang tinggi.
Foto: Atas: © Bruce Carlson; Bawah: © Great Barrier Reef Marine Park Authority


"Saat ini kita SUDAH punya pemahaman ilmiah yang cukup tentang penyebab penurunan terumbu - yang kita perlukan saat ini adalah gambaran yang lebih jelas untuk menolong mereka berbalik arah menuju keadaan optimal mereka di masa lalu, melalui pemulihan," ujar penulis utama, Terry Huges dari Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef Studies di James Cook University.

Berbagai riset dunia telah menunjukkan bahwa terumbu karang memiliki daya lenting (resiliensi) dan mampu pulih dari fenomena gangguan skala besar.

Sebagai contoh, dalam artikel dijelaskan bahwa pada situs terumbu skalal lokal di pulau Heron di Great barrier Reef hampir setiap dekade secara rutin kehilangan hampir seluruh karang-nya akibat badai. Namun tetap memiliki kemampuan pemulihan yang cukup cepat dan kecenderungan struktur terumbu berubah dan berbeda jauh dari keadaan terumbu di masa lalu sangat kecil.

Namun, dampak manusia memiliki pengaruh berbeda dibanding dampak alam, seperti badai. Terumbu karang saat in bukan lagi menghadapi gangguan atau bencana alami yang datang, mereda, dan lewat. Namun, pengaruh manusia yang ditulis sebagai "dampak manusia yang kronis", merupakan gangguan yang konstan dan bertahan dalam kurun waktu lama. Dampak manusia saat ini membuat kemampuan alami karang untuk pulih tidak bisa membandingi 'dentuman' kematian karang yang terus terpicu akibat gangguan manusia.


Mekanisme pemutihan karang. Keadaan normal (kiri) dimana alga ber-sel satu (zooxanthellae) berada di lapisan jaringan karang. Keadaan terganggu (tengah): zooxanthellae lepas dari lapisan jaringan karang. Keadaan sekarat: Karang menuju kematian sebab jaringan karang tidak tumbuh tanpa adanya zooxanthellae, dan alga halus (alga filamen) bisa tumbuh di permukaan kerangka karang yang mati. Proses ini bisa terjadi pada ribuan koloni, menyebabkan fenomena pemutihan karang masal.
Gambar: www.solcomhouse.com/coralreef.htm



"Dalam satu abad kebelakan, banyak terumbu-dekat-pantai di bagian dalam Great Barrier Reef telah tertutupi sedimen dan makroalga, dan menunjukkan sedikit kemampuan atau indikasi akan pemulihan menuju kondisi semula yang 'kaya karang", tulis para peneliti.



Kiri: Terumbu yang memiliki resiliensi / daya lenting tinggi dengan struktur yang kaya akan karang hidup keras. Kanan: Terumbu yang sudah mengalami gangguan dimana struktur sudah berubah dimana komposisi makroalga melampaui jumlah karang keras. Membantu terumbu berbalik dari kanan ke keadaan di kiri adalah salah satu tugas kita dalam mengelola terumbu saat ini.
Foto: Kiri: © E. Turak; Kanan: © A. Hoey


Terry Hughes berkata, "kunci untuk menyelamatkan terumbu terletak di dalam pemahaman kita mengapa beberapa terumbu mengalami degenerasi menjadi hamparan rumput laut dan tidak bisa pulih lagi - kejadian yang disebut "perubahan fase" -; sementara di terumbu lain karang-nya mampu puli kembali dengan sukses - sebuah kemampuan yang disebut daya lenting atau resiliensi.

Para peneliti juga mengangkat beberapa tempat dimana terumbu karang yang berbalik pulih akibat adanya usaha pencegahan dampak manusia terkait penurunan karang di masa lalu. Sebagai contohnya, mengakhiri buangan limbah di Teluk Kanehoe di Hawaii telah memungkinkan karang untuk pulih; kembalinya populasi bulu babi di beberapa bagian kepulauan Karibia telah memungkinkan karang untuk bangkit 'melawan' rumput laut; dan di Filipina regulasi yang lebih efektif untuk penangkapan ikan berlebih telah memungkinkan ikan kakatua untuk pulih kembali - sejenis ikan terumbu yang membantu karang pulih dengan memakan rumput laut (makroalga) kompetitor karang.



Ikan terumbu herbivora: (Arah jarum jam dari pojok atas-kiri) Ikan Kakatua, Surgeonfish, Rudderfish, Angelfish, Damselfish dan, Rabbitfish. Ikan-ikan ini berperan sebagai 'tukang rumput' di terumbu, memakan alga yang tumbuh diantara karang sehingga jumlah alga terkendali dan karang dapat ruang dan cahaya untuk tumbuh. Jika ikan ini dihidangkan  di suatu kawasandan disantap, berarti pertanda ikan perdator ekonomis sudah mulai habis ditangkap, dan ikan herbivora pun jadi incaran, kemampuan pemulihan terumbu pun terancam dan semakin rentan akan gangguan lainya. PERHATIKAN JENIS IKAN YANG ANDA SANTAP, JANGAN MAKAN IKAN-IKAN TERUMBU INI.
Foto: © Garry allen.

"Krisis terumbu karang dunia umumnya terkait juga dengan krisis kepemerintahan, sebab kita sudah tau apa yang perlu dilakukan, namun aksi atau tindakan (untuk mengurangi polusi, menekan emisi gas rumah kaca, mencegah penangkapan berlebih dan merusak) tidak dilakukan," ujar Terry Hughes.

Studi tersebut juga menyarankan agar berbagai pemerintahan untuk melibatkan para peneliti yang memahami studi daya lenting terumbu karang dalam pengembangan kebijakan terkait penyelamatan terumbu karang. Sebagai tambahan, pemerintah sebaiknya fokus dalam pendidikan masyarakat lokal, perubahan mekanisme tata guna lahan dalam mencegah lepasan polusi, memperkuat hukum untuk melindungi terumbu karang, memperbaiki pengaturan penangkapan berlebih, dan bekerja dengan institusi internasional, seperti Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dalam penyediaan perlindungan yang lebih baik bagi karang yang terancam punah.

Namun tentunya, satu bongkahan batu besar lainnya adalah perubahan iklim. Dalam masa pengasaman laut saat ini, sebab meingkatnya emeisi karbon serta menghangatnya temperatur laut - akan membawa keterpurukan terumbu karang meskipun tindakan yang mendukung daya lenting karang dilakukan.

Dalam perspektif global para peneliti mengatakan juga bahwa pemerintah negara dunia juga harus "menghadapi perubahan iklim sebagai isu utama yang paling penting bagi pengelolaan dan konservasi terumbu karang dengan menekan tajam emisi gas rumah kaca."

Terry Hughes menambahkan, "tanpa tindakan yang segera, pemanasan global dan pengasaman laut dalam waktu kedepan yang belum terlihat akan menjadi jaminan kuat gagalnya terumbu karang. Meskipun memungkinkan sekali untuk memicu pemulihan terumbu karang seusai rentetan pemutihan karang melalui tindakan lokal seperti menjaga dan meningkatkan kualitas air dan melindungi herbivora terumbu, intervensi semacam ini tidak akan menjadikan terumbu 'tahan-perubahan-iklim'."

Namun, pesan di akhir artikel tidak memberikan harapan yang kelam dan terpuruk bagi karang, melainkan: "the world's coral reefs can still be saved… if we try harder".

Terumbu karang masih bisa diselamatkan… jika kita berusaha lebih kuat lagi.

Referensi

Terry P. Hughes, Nicholas A.J. Graham, Jeremy B.C. Jackson, Peter J. Mumby, and Robert S. Steneck. Rising to the challenge of sustaining coral reef resilience. Trends in Ecology and Evolution Vol.25 No.11. doi:10.1016/j.tree.2010.07.011.

Minggu, 22 Agustus 2010

Penyu Mukomuko Terancam Abrasi


Jejak penyu di pantai seusai bertelur di malam hari.

Bengkulu (ANTARA News) - Habitat penyu langka di Desa Air Hitam, Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko terancam digerus abrasi pantai akibat kawasan cagar Alam sekitar itu rusak.


"Hutan cagar alam di wilayah itu luas seluruhnya 85 hektare sudah dirambah warga mencapai 50 hektare dan dijadikan kebun kelapa sawit," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu Andi Basrah didampingi Kabau TU Supartono, Minggu.

Sisa 35 hektare itu sekarang masih digerogoti perambah di beberapa desa antara lain warga Desa Air Hitam dan Sinar Laut setempat.

Kawasan hutan cagar alam seluas 85 Hektare itu kembali akan dihijaukan karena ancaman abrasi pantai terus mengerus itu, sehingga akan mengganggu habitat dan budidaya penyu langka setempat.

Upaya menghijaukan kembali kawasan itu BKSDA sudah menurunkan tim terpadu untuk menebangi ribuan pohon kelapa sawit perambah dalam kawasan cagar alam tersebut.

Tim sudah diturunkan mulai, Sabtu (21/8) sampai saat ini sudah berhasil menebang sekitar 400 batang kelapa sawit disepanjang tapal batas dengan lahan warga setempat.

Penebangan pohon kelapa sawit tersebut disaksikan warga, kelapa desa, camat dan Asisten I Setwilda Kabupaten Mukomuko.

Tahap pertama ini dilakukan penebangan tiga jalur pada batas, berikutnya akan dilanjutkan setelah bulan puasa, namun sebelumnya penebangan tahap kedua seluruh perambah dalam kawasan itu akan diperiksa di Polda Bengkulu.

"Nanti akan diberikan solusinya apakah perambah bersedia menanam pohon pelindung sekaligus memeliharanya sampai besar, atau mau diproses hukum dan penebangan dilanjutkan tim terpadu," kata Andi.

Tim terpadu sebanyak 150 orang dari petugas Polisi kehutanan, anggota Polda Bengkulu dan TNI itu, melibatkan 40 pasang operator gergaji mesin (chainsaw).

"Kami tidak akan berikan kesempatan bagi perambah untuk memelihar tanaman kelapa sawit tersebutm apalagi mau membuka lahan baru,"katanya.

BKSDA Bengkulu juga menertibkan ribuan perambah dalam kawasan lahan konservasi seluas 45 ribu hektare yang saat ini sudah 75 persen rusak.

Razia berikutnya akan melibatkan tenaga gajah untuk mencabut tanaman perambah dan merobohkan pondok mereka, "bila perlu pondok-pondok itu dibakar seperti dilakukan dalam kawasan taman wisata alam Bukit Kaba Rejang lebong belum lama ini," katanya.
(ANT/A038)