Senin, 28 April 2014

Ledakan populasi bulu seribu di terumbu karang: Apa penyebabnya?


Saat ini penyebab pasti ledakan populasi bulu seribu di terumbu karang masih belum ditetapkan oleh para ilmuwan. Sejauh ini ada tiga teori utama penyebabnya, namun masih belum ada landasan bukti valid untuk mendukung atau menolak bukti ini.

Bulu seribu / crown-of-thorns starfish / Acanthaster planci.
Foto: MattWright

Teori Pertama: Fluktuasi alami

Bulu seribu, bintang seribu, atau crown-of-thorns starfish mampu menghasilkan 1 milyar telur, hanya dari satu siklus hidup seekor betina. Perubahan keadaan lingkungan laut mempengaruhi kelulushidupan 'bayi-bayi' bulu seribu.

Sebagai gambaran, dengan jumlah sebesar ini, andaikan saja peluang selamat satu larva setiap satu milyar telur meningkat, menjadi satu larva setiap sepuluh juta 'saja', maka satu generasi bisa meningkat pupulasinya sepuluh kali lipat.

Hanya 'sedikit' saja bulu seribu yang memijah (melepas telur) maka peluang untuk menghasilkan generasi penerusnya masih sangat besar dan hingga berlipat ganda.

Dalam skala lokal, perubahan temperatur air, salinitas atau ketersediaan makanan plankton di perairan - semuanya bisa mendongkrak kelulushidupan larva bulu seribu. Dalam skala laut besar, ada beberapa dugaan ilmiah bahwa ledakan populasi bulu seribu juga berkaitan dengan fenomena El NiƱo-Southern Oscillation (ENSO) yang merubah iklim lokal di sekitar Samudera Pasifik.

Populasi bulu seribu yang merebak dalam waktu singkat ('ledakan' / outbreak) tampak sedang menyelimuti terumbu sembari menggerogoti jaringan koral hidup dibawahnya.
Foto: The Benshi.com

Teori Kedua: Menghabisnya predator

Bukan predator si alien, melainkan biota di laut yang suka memakan bulu seribu. Di laut, predator bulu seribu tidak banyak. Mungkin mereka takut sariawan jika mengunyah bulu seribu. Namun diantaranya adalah: siput laut triton (giant triton snail), ikan napoleon (humphead wrasse), ikan buntal (starry pufferfish).

Siput laut triton bernilai tinggi dan sebelum dilindungi di tahun 1969 mereka kerap ditangkap dan diperdagangkan. Jumlah siput triton di terumbu tergolong rendah. Selain itu, siput triton hanya mampu memangsa satu bulu seribu tiap minggu sehingga kemampuannya untuk mengendalikan ledakan populasi bulu seribu terbilang terbatas.

Ikan napoleon juga dikenal aktif sebagai predator bulu seribu. Namun ikan ini juga bernilai tinggi dan saat ini dilindungi dan tidak boleh ditangkap dan diperdagangkan.

Di terumbu karang, ada ikan-ikan yang senang memangsa bintang laut yang masih kecil. Bintang laut juvenil ('bayi') yang menjadi makanan ikan biasanya yang berusia enam tahun setelah mereka melekat di terumbu dan baru saja mulai memangsa karang hidup. Jika jumlah ikan pemangsa bintang laut menghabis akibat aktifitas perikanan maka situasi ini memungkinkan jumlah bulu seribu juvenil yang tumbu dewasa dalam jumlah yang 'abnormal'.

Namun saat ini belum ada bukti kuat bahwa ikan-ikan yang ditangkap untuk komersil memangsa juvenil bulu seribu dalam jumlah banyak. Kabari kami jika ada temuan yang mendukung ini. 

Terbatasnya bukti juga disebabkan jumlah larva bulu seribu yang bertahan hidup lalu melekat di dasar-pun belum diketahui. Selain itu sulit juga untuk memperkirakaan laju pemangsaaan predator mereka di lapangan. Seberapa besar laju predasi yang diperlukan untuk mencegah ledakan populasi bulu seribu - masih menjadi pertanyaan. Ini bisa menjadi pertanyaan kunci untuk memulai riset.

Teori ketiga: Pengaruh manusia terhadap kualitas air

Banyak laporan ilmiah dari penjuru dunia yang menegaskan adanya hubungan antara curah hujan tinggi yang berkepanjangan dengan mulainya ledakan bulu seribu. Curah hujan tinggi yang berkepanjangan yang menyusuli kemarau, atau musim panas yang berkepanjangan, membuat salinitas air laut menurun dan kaya akan jumlah sedimen dan zat hara (nutrien) yang dibawa dari daratan ke laut - seperti melalui banjir.

Tingkat nutrien yang tinggi mampu meningkatkan jumlah alga mikroskopis di air, yang menjadi makanan larva bulu seribu. Keadaan ini memungkinkan semakin banyak larva bulu seribu yang lulus hidup dan populasi bulu seribu dewasa yang lebih besar. Rendahnya salinitas air juga meningkatkan kemungkinan terjadinya keadaan ini.

Sebab ini, banjir yang membawa run-off dari daratan ke laut bisa memicu ledakan populasi bulu seribu. Namun, saat ini jumlah sedimen dan nutrien yang bermuara di pesisir sudah tidak alami lagi sebab pengaruh aktifitas manusia di daratan. Tingginya nutrien akibat asupan bahan organik dan anorganik dari polusi bisa andil mendukung kelulushidupan larva, atau meningkatkan frekuensi kejadian ledakan populasi.

Foto: Kayal et al. 2012
Foto: Kayal et al. 2012
Kita tidak mau terlalu sering adanya ledakan populasi bulu seribu

Kenapa? Sebab makanan mereka adalah karang hidup, atau koral, yang masih hidup. Mulut radial di tengah tubuh mereka senang mencaplok jaringan lunak hidup dipermukaan karang. Hanya bekas kerangka keras putih dari karang yang mereka sisakan setelah itu. Ketika mereka 'meledak' dalam jumlah banyak, terumbu karang yang berwarna-warni bisa menjadi putih dalam waktu singkat. Kita bicara luasan satu hingga ratusan meter persegi. Dengan kombinasi polusi laut, penangkapan ikan berlebih, dan terdampaknya laut oleh perubahan iklim global, peluang terumbu karang yang rusak untuk pulih sangat kecil.

Ledakan populasi bulu seribu mungkin sudah bagian dari siklus alami laut, namun aktifitas manusia terhadap pesisir dan laut telah bisa membuat 'ledakan yang abnormal'.

Apa yang kita lakukan di darat kembali ke laut.

Referensi
  • CRC Reef Research Centre. What causes crown-of-thorhs starfish outbreaks? 
  • Kayal M, Vercelloni J, Lison de Loma T, Bosserelle P, Chancerelle Y, et al. (2012) Predator Crown-of-Thorns Starfish (Acanthaster planci) Outbreak, Mass Mortality of Corals, and Cascading Effects on Reef Fish and Benthic Communities. PLoS ONE 7(10): e47363. doi:10.1371/journal.pone.0047363





Senin, 13 Januari 2014

Kuliah gratis online tentang Ekosistem Pesisir Tropis dan Perubahan Global

The University of Queensland (UQ) telah membuka mata kuliah on-line gratis Tropical Coastal Ecosystems and Global Change bagian dari kerjasama dengan edX dan Harvard dan MIT.

 Course dimulai 28 April. Untuk informasi lebih lanjut dan registrasi bisa tengok http://bit.ly/JEnRkV

Ayo tantang diri kita untuk memahami permasalahan dan mencari solusi dalam mengelola ekosistem pesisir tropis. mHabitat pesisir memberikan sumber daya jasa dan produk bagi ratusan juta orang di Bumi, namun kesehatan pesisir dan laut kini terus menurun sebab aktifitas manusia.

Kuliah "TROPIC101x" akan mengenalkan kita pada hewan dan tumbuhan pesisir yang mengagumkan. Kuliah ini akan mengajak kita mengeksplorasi tantangan yang dihadapi ekosistem pesisir saat ini seperti penangkapan berlebih, polusi pesisir, pemanasan laut, dan pengasaman laut.

Kuliah ini akan mengkenalkan ekosistem pesisir tropis pada umumnya seperti terumbu karang, bakau dan lamun). Pengajar kuliah ini antara lain Professors Hugh Possingham, Sophie Dove, Catherine Lovelock, Stuart Phinn dan Ove Hoegh-Guldberg.

Semoga berhasil !



Ada yang tahu istiliah MOOC itu? Klik disini

Sabtu, 03 Agustus 2013

Untaian Domino Yang Terus Berjatuhan Karena Dampak dari Aktivitas Penangkapan Hiu

Mochamad Iqbal Herwata Putra

Setiap mahluk hidup yang ada di bumi diciptakan memiliki perananya masing-masing untuk menjaga keseimbangan ekosistem di bumi, akan tetapi kita sebagai manusia terkadang lupa atau mengabaikan “peranan-nya”.

Peranan anggota masyarakat dalam sebuah “ekosistem” tak jauh beda dengan peranan biota terhadap ekosistem yang ada dilautan, setiap mahluk hidup yang ada dilaut memiliki peranannya masing-masing untuk membuat keseimbangan.

Lautan hidup, kedalaman menyimpan rahasia, dan kita berimajinasi didalamnya, dalam cerita atau mitos. Banyak sekali cerita dan mitos yang dan membuat “mindset”  yang salah kepada masyarakat terhadap biota yang ada dilaut, mungkin yang paling banyak menjadi korban adalah HIU, dibanyak cerita, mitos, atupun film memberikan reputasi yang buruk terhadap hiu, sosok hiu yang menyeramkan dan memakan manusia, padahal hiu sama sekali tidak tertarik kepada manusia bahkan takut terhadap manusia. Hiu adalah mahluk hidup yang pemalu dan penuh kehati-hatian dan jarang ditemui, menjadi hal langkan bagi seorang penyelam untuk dapat berenang langsung di alam. Kasus penyerangan yang biasanya terjadi terhadap manusia biasanya hiu salah mengartikan manusia sebagai makanannya.

Statistik 2009 mencatat manusia berenang dilautan 7 milyar kali, hanya 60 orang yang tercatat diserang hiu dan diakhiri dengan 5 kematian, itu seperti 5 butir pasir dilautan. Bandingkan dengan angka 24.000 orang yang setiap harinya mati tersambar petir.

Hiu memerankan peran penting di setiap ekosistem dilautan yang begitu kompleks, dan manusia ikut memainkan peranan itu karena manusia juga ikut memanfaatkan hasil laut dan menjadi ujung dari setiap rantai makanan sehingga manusia masuk didalamnya.

Kesemua mahluk hidup bergantung satu sama lain. Sederhanannya bila seorang peranan polisi dihilangkan maka tingkat kriminalitas akan semakin tinggi dan tidak ada yang mengamankan dan menekan angka kriminalitas, sehingga kesemua peranan anggota masyarakat saling keterkaitan satu sama lain membentuk sebuah keseimbangan, dan bila salah satu peran dari anggota masyarakat tidak dijalankan maka akan berdampak buruk ke anggota masyarakat yang lain, hal tersebut seperti efek “domino” yang saling berhubungan.

Keterkaitan satu sama lain seperti untaian efek domino yang dihasilkan
(Gamber: Video Sanctuary Indonesia)
Hal tersebut sama seperti Hiu, bila fungsinya di hapuskan maka keseimbangan di lautan menjadi terganggu. Penelitian di Hawai menunjukan peranan Hiu Harimau terhadap ketersedian stok ikan Tuna muda dan Kuwe, mengapa demikian? Penelitian menunjukan adannya keterkaita antara Hiu Harimau, Burung Laut, Ikan Tuna muda dan Kuwe. Dalam area yang aman maka terjadi keseimbangan, tetapi bila peranan Hiu Harimau dihilangkan akan berdampak buruk pada stok Ikan Tuna muda dan Kuwe, hal tersebut karena Hiu Harimau memakan Burung laut, dan burung laut memakan Ikan Tuna muda dan Kuwe, bila peranan Hiu Harimau dihilangkan maka akan terjadi ledakan populasi Burung Laut sehingga akan lebih banyak memakan Ikan Tuna muda dan Kuwe, dampaknya perikanan hawai bisa terpuruk, itu seperti untaian kartu domino yang terus berjatuhan.

Keseimbangan ekosistem akan menghasilkan melimpahnya ikan Tuna muda dan Kuwe
Jatuhnya untaian kartu domino juga terjadi dilaut karibia, disini Hiu memerankan peranan pentingnya dalam menjaga keseimbangan kesehatan terumbu karang, dimana ada keterkaitan antara Hiu, kerapu, dan ikan herbivore (pemakan alga). Dalam area yang aman keterkaitan biota tersebut membentuk suatu keseimbangan di ekosistem terumbu karang, namun bila peran Hiu dihilangkan apa yang akan terjadi? Ledakan alga yang menutupi terumbu karang dan berdampak hilangnya terumbu karang rumah untuk para ikan ! mengapa demikian? Ternyata keterkaitannya adalah Hiu memerankan sebagai pengontrol populasi Kerapu yang memiliki selera makan yang tinggi terhadp ikan herbivore, apabila peran hiu dihilangkan maka akan terjadi ledakan populasi kerapu, ledakan populasi kerapu ini di sambut baik nelayan, namun kesenangan itu hanya sementara karena dengan predasi yang tinggi terhadap ikan herbivore  maka pertumbuhan alga tidak terkontrol dan menutupi terumbu yang lambat lamun merusak strukturnya dan akhirnya mati, hilangnya terumbu karang hilang juga rumah untuk para ikan hidup dan pada akhirnya perikanan juga ikut terpuruk.

Keterkaitan ikan Hiu, Kerapu, dan ikan Herbivor dalam menjaga kesehatan terumbu karang
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)
Ikan keluarga Achanturidae (Pemakan alga) yang mengontrol pertumbuhan alga
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)

Manusia memburu hiu secara brutal, hanya untuk memuaskan pasar untuk sup sirip hiu, akan tetapi dampaknya begitu besar terhadap ekosistem dilautan dan ekonomi masyarakat. Tetapi kita seakan buta dan tuli bahwa telah terjadi “kebakaran di bawah laut sana”  yang dapat merugikan manusia pada akhirnya. Hiu bukanlah tandingan untuk ikan-ikan ekonomis lainnya yang dapat menghasilkan keturunan dengan cepat, Hiu sangat lambat untuk dewasa secara seksual dan menjadi sangat terancam populasi nya oleh aktivitas pemancingan. Tapi kita memperlakukannya seperti ikan-ikan lainnya dan di buru secara terus menurus oleh kapal industry perikanan, dan dampaknya populasi-nya menurun secara global. Hiu bukanlah tandingan untuk kenur panjang, jaring pukat, dan permintaan pasar yang tinggi untuk sup sirip Hiu.

Tingkat reproduksi ikan Hiu
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)
Ikan Hiu di TPI (Tempat Pelelangan Ikan)
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)
Sirip hiu yang dijemur
Pada akhirnya kembali lagi kepada kita manusia yang memiliki akal dan dapat mengendalikan ekosistem agar tetap terjaga keseimbangan-nya, sudah seharusnya kita peduli terhadap lingkungan karena kita sendiripun hidup didalamnnya. Sudah banyak gerakan-gerakan penentangan penangkapan hiu namun kembai lagi kepada kita sebagai konsumen, masih maukah kita membiarkan kebakaran terjadi dibawah laut sana? Sudah seharusnya kita menjadi manusia yang semakin bijak dengan memutuskan untuk tidak mengkonsumsi Hiu.

Hiu Martil yang diambil sirip-nya
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)
Aksi kampanye anak-anak pelajar negara Guam dengan sukses melobi pemerintahnya untuk menghentikan praktek perdagangan Hiu
(Gambar: Video Sanctuary Indonesia)