Minggu, 20 Desember 2009

Rumah baru gurita masa kini: Batok kelapa.



Rabu, 16 Desember 2009 | 17:28 WIB

*SYDNEY, KOMPAS.com*– Para ilmuwan Australia telah menemukan gurita di Indonesia yang mengumpulkan batok kelapa untuk dijadikan rumah. Ini bisa jadi merupakan penemuan perilaku tingkat lanjut yang pertama bagi binatang invertebrata (tanpa tulang belakang) yang mampu memakai alat.

Para ilmuwan memfilmkan gurita *Amphioctopus marginatus *itu yang tengah memilah kumpulan batok-batok kelapa di dasar lautan, mengosongkan isinya, dibawa di bawah tubuhnya sejauh 20 meter, dan kemudian mengatur dua batok sehingga membentuk bola tempat bersembunyi.

Julian Finn dan Mark Normann, dari Musium Victoria di Melbourne, selama beberapa kali mengunjungi Sulawesi Utara dan Bali untuk menyelam, antara periode 1998 sampai 2008, telah melihat aktivitas janggal dilakukan oleh empat gurita berbeda. Penemuan mereka diterbitkan, Selasa (15/12/2009) di majalah Current Biology.

"Saya sampai tercengang," kata Finn, seorang peneliti pakar biologi dari musium yang berspesialisasi pada Cephalopoda. "Maksudku, aku sering melihat gurita bersembunyi di balik batok kelapa, tapi aku tadinya belum pernah melihat ada yang bisa mengambil batok, dan menariknya. Aku sampai harus menahan tawa."

Gurita seringkali memakai barang apa saja untuk berlindung. Tapi para ilmuwan telah menemukan bahwa gurita berpembuluh darah itu selangkah lebih maju karena bisa menyiapkan batok-batoknya, dengan cara membawanya cukup jauh, lalu mengaturnya di tempat lain.

"Itu adalah contoh pemakaian alat, yang mana belum pernah ditemukan pada mahluk invertebrata sebelumnya," kata Finn.

"Bedanya dari umang-umang darat ialah gurita ini mengumpulkan batok-batok untuk digunakan belakangan, jadi ketika memindahkan batok, gurita itu tak terlindungi," kata Finn. Hal ini unik karena batok itu tak langsung dipakai, berarti gurita itu bisa berpikir untuk masa depan. "Karena bisa mengumpulkan batok untuk digunakan nanti maka gurita ini unik."

Para peneliti berteori bahwa kemungkinan besar jenis gurita itu dulunya memang bercangkang. Tapi begitu manusia tahu membelah kelapa dan membuang batoknya ke laut, gurita-gurita itu menemukan cara yang lebih baik untuk berlindung, tutur Finn.

Penemuan ini berarti, karena ini menunjukkan bahwa hewan mampu untuk menunjukkan perilaku yang lebih rumit, menurut Simon Robson, lektor kepala bidang biologi tropis dari Universitas James Cook di Townsville.

"Gurita memang menonjol sebagai hewan invertebrata yang cerdas," Robson memaparkan. "Mereka memiliki indra penglihatan yang cukup berkembang dan otak yang cukup cerdas. Jadi aku rasa penemuan ini menunjukkan kemampuan perilaku rumit yang bisa dilakukan organisme ini."

Di kalangan ilmiah memang selalu ada perdebatan tentang definisi 'penggunaan alat' dalam dunia hewan, menurut Robson. Para peneliti Australia menjabarkan 'alat' sebagai barang yang dibawa atau disimpan untuk keperluan mendatang. Tapi ada juga ilmuwan lainnya yang beda pendapat, jadi sulit untuk menentukan dengan pasti apakah ini memang perilaku penggunaan alat pada hewan invertebrate atau bukan, kata Robson. Tapi biar bagaimanapun ia tetap menganggap penemuan ini sangat menarik.

"Ini satu lagi contoh yang membuat kita sadar betapa miripnya manusia dengan alam. Kita hanyalah perpanjangan dari planet ini," tandasnya.

Senin, 14 Desember 2009

Semarang tenggelam akibat kenaikan tinggi muka air laut (TMAL).

Demikian penelitian Sistim Informasi Geografis (SIG) yang dilakukan Marfa’I dan King mensimulasikan dua skenario kenaikan tinggi muka air laut (TMAL) sebesar 120 cm dan 180 cm pada  pesisir Semarang.


(a) Pesisir semarang saat ini, (a1) kawasan tambak, (a2) kawasan bangunan.
Foto: Marfa’i & King, 2008.

Pesisir Semarang dalam simulasi kenaikan TMAL:

(atas) Hasil simulasi kenaikan TMAL 120 cm, dan (bawah) 180cm. Inundated area (daerah terendam). Gambar: Marfa'i & King 2008.

Kita tidak tahu pasti seberapa cepat kenaikan TMAL di waktu mendatang. Pastinya, dalam satu abad ke belakang, TMAL rata-rata dunia naik antara 10-25 cm dan disebabkan oleh pemanasan global. Indonesia diprediksi akan kehilangan sekitar 34.000 km2 daratan akibat kenaikan TMAL hanya dengan 60 cm saja.

Kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya, rentan akan inundasi pesisir (perendaman pesisir atau ‘rob’), Untuk Semarang, menurunnya dataran (subsiden) akibat kosongnya rongga-rongga di bawah tanah akibat penyedotan air tanah yang berlebih, memperburuk dampak inundasi pesisir/rob.

Penurunan daratan sendiri diprediksi menyebabkan bertambahnya luasan daratan Semarang yang terendam air laut dari 362 hektar di 2010, ke 1377.5 hektar di 2015; hingga 2227 di tahun 2020. Sadar, tidak disadari, acuh tak acuh, di Semarang sekitar 72.000 penduduk tinggal dibawah muka air laut seperti di Tambak-harjo, Tawang-sari, Panggung-lor, Bandar-harjo, Tanjung-mas, Terboyo Kulon. Serasa di Belanda.

Jika kedua skenario diatas terjadi maka sekitar 2000 hektar industri tambak dan juga bangunan akan terkena dampak. Hilangnya 700 – 900 hektar daratan terbuka dan 500 – 700 hektar kawasan pertanian dan perkebunan. Kerugian ekonomi: (silahkan isi).

Sejauh mana Kita telah mengantisipasi ? Tengok hasil dokumentasi Marfa’I dan King (2008) dibawah.



(a) Akankah kita terus meninggikan tembok penghalang air rob?. (b) akankah kita akan terus meninggikan rumah kita ?. (c) akankah kita terus memompa keluar air yang masuk? (d) akankah kita terus mengalihkan air yang membanjiri kota?. Foto:Marfa'i & King 2008.

Percaya atau tidak dengan pemanasan global, yang pasti, alam sedang berubah dan Kita merasakan.

Saat artikel ini ditulis, di Copenhagen sedang berlangsung 14 hari Konferensi Perubahan Iklim Dunia, dimana para petinggi negara maju mencoba menyepakati penurunan emisi CO2 mereka. Indonesia menunggu hasil saja, dan dampak emisi CO2 negara maju satu abad keblakang saat ini Kita di yang tropis  merasakan.

Jangan pusing terlalu jauh memikirkan untuk menghentikan dampak perubahan iklim duni. Tengok Laut disekitar Kita yang terus terdegradasi. Indonesia memiliki paket lengkap keanekaragaman hayati disertai dengan beragam kerusakan akibat Kita sendiri.

Ikan di Laut Kita  terus menurun jumlahnya. Kita terlalu banyak mengambil dari Laut. Tahun 2004-2005, sebesar12.5% perikanan nasional datang dari negara lain. Mengenaskan. Bahkan tahun 2008 kita mengimpor garam. Sudah jelas ada yang salah dalam cara Kita mengelola sumberdaya Laut Kita.

Dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir, Thailand, Filipina, Taiwan, Korea, Panama, Cina, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan beberapa negara lainnya ‘berlangganan’ mencuri ikan di laut Kita. Segala Undang-Undang karya pemerintah kita sejak tahun 80’an gagal dan tidak efektif menangkal kejahatan perikanan asing di perairan Kita.

Kita berteriak dengan kencang ketika Pakaian Nasional dan Tarian Adat kita direbut Negara tetangga. Namun secara tidak disadari, ikan Kita terus hilang dan berkurang, pesisir semakin tercemar dan rusak, nasib nelayan dan masyarakat pesisir dan pulau kecil semakin mengenaskan. Parahnya, Kita membiarkan mereka yang memiliki wewenang dalam mengatur semua ini - terkadang dalam nuansa korup.

Sejauh inikah kemanusiaan dan nasionalisme Indonesia saat ini ?

Apakah Kita saat ini berbondong-bondong menuju krisis Ikan 2015 dan terendamnya pesisir?
------------------------
Referensi:
  • Damanik, R., Suhana, and B. Prasetiamartati. 2008. Menjala ikan terakhir(Sebuah fakta krisis di laut Indonesia). D. Setiawan, editor. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta. (Gratis unduh file PDF disini)
  • Marfai, M. and L. King. 2008. Potential vulnerability implications of coastal inundation due to sea level rise for the coastal zone of Semarang city, Indonesia. Environmental Geology 54:1235-1245.
  • Nicholls JR, Mimura N (1998) Regional issues raised by sea-level rise and their policy implications. Clim Res 11:5–18
  • IPCC
  • Kompas. 24 Agustus 2009. Indonesia mesti malu, masa garam dan ikan harus impor.

Jumat, 20 November 2009

Anak karang vs Lautan asam

Dwi Haryanti

Bulan Maret lalu saya mendapatkan kesempatan untuk turut serta dalam sebuah riset di lapangan untuk mengamati spawning masal karang. Saya bersama beberapa rekan ditempatkan di sebuah pulau kecil di bagian timur kepulauan Karimunjawa. Kesempatan langka yang sudah lama saya nanti-nantikan, karena sebagai mahasiswa sains yang selalu berkutat dengan topik-topik mengenai biologi dan reproduksi karang, saya sendiri belum pernah sekalipun melihat bentuk telur karang secara langsung.

Coral spawning SUPER slick - kumpulan telur, embrio dan larva yang terapung di Scott's Reef, Great Barrier Reef Australia(James Guest, Jurnal Science, 2008) 

Anda pernah melihat telur karang?

Jika Anda beruntung, pada hari-hari di sekitar bulan purnama, di musim-musim peralihan (dalam hal ini, di Indonesia, yang saya ketahui sekitar bulan Maret-April dan Oktober-Novenber) mungkin Anda akan menemui satu malam dimana laut menebarkan bau amis, dan terlihat semacam slick berwarna pink-orange mengapung di laut ataupun terbawa arus menuju pantai dan dermaga. Saat itulah karang sedang melakukan spawning masal. Masyarakat lokal di Karimunjawa menyebutnya “Tai Arus”, mungkin karena bau amisnya, dan warnanya. Namun dengan begitu saya jadi lebih mudah mengingatnya :)

Telur karang dilepaskan bersama-sama dengan satu tujuan: memperbesar kesempatan sebuah generasi baru untuk hidup dan tumbuh. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi calon-calon anak karang yang baru dilepaskan. Selain hempasan ombak ke pantai yang berpotensi menggagalkan mereka untuk hidup, ada juga predator seperti ikan. Yang berhasil dibuahi akan berkembang menjadi satu individu baru bernama ‘planula’.

Sebelum menempel ke dasar perairan dan membentuk koloni karang, planula akan mengembara mencari tempat yang cocok untuk menetap. Badannya yang dibekali dengan kandungan lemak memiliki dua fungsi, pertama sebagai pengatur daya apung (Ya, benar, meski sangat kecil, mereka juga aktif berenang, dengan bulu-bulu getar mikroskopis), dan juga sebagai cadangan makanan. Satu tantangan tersendiri untuk para planula pengembara agar dapat menemukan tempat baru sebelum cadangan makanan mereka habis. Dan belum berhenti disitu, karena setelah settle atau menempel, planula akan mulai bermetamorfosis, membentuk polip (bentuknya tidak akan seperti telur lagi, melainkan akan berubah menjadi seperti mangkok, dengan mulut dan tentakel), dan membangun kerangka kapur.


Tahapan metamorfosis planula, dari bentuk telur lonjong, hingga polip kerangka kapur muda.

Terumbu karang, yang kita lihat sebagai taman bawah laut berwarna-warni, seperti yang kita ketahui, komponen penyusun utamanya tak lain adalah hewan-hewan karang kecil yang mengendapkan kerangka kapur hingga dalam berbagai bentuk dan rupa. Merekalah planula-planula pengembara yang berhasil bertahan hidup. Dalam siklus hidupnya, fase metamorfosis planula menjadi polip dapat dikatakan sebagai tahapan yang sangat rentan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keberhasilan metamofosis sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti suhu, pencahayaan-kaitannya dengan radiasi sinar matahari, dan juga tingkat keasaman laut (pH). 



'Coral Spawning sata bulan purnama, Okinawa, Jepang - www.aquageographic.com

Apabila kita menyimak posting sebelumnya mengenai asidifikasi laut dan segala skenario di masa depan yang berkaitan dengan perubahan komposisi kimia lautan, maka faktor-faktor diatas perlu digarisbawahi. Laut yang asam tidak hanya mengikis perlahan terumbu karang (dewasa, jika boleh dikatakan demikian) yang sudah ada, namun juga dapat menghambat regenerasi dan pertumbuhan anak-anak karang.

 Coral spawning di Florida Keys, AS dari NOAA

Seberapa besar kelentingan atau daya tahan mereka terhadap perubahan lingkungan, dan seberapa jauh anak karang yang baru akan tumbuh dapat beradaptasi terhadap laut yang asam memang belum diketahui. Tugas kita adalah untuk mengkaji dan mengerti, lalu bersama-sama melakukan upaya-upaya untuk turut menjaganya. Menekan emisi karbon menjadi solusi yang dapat dilakukan hampir oleh semua orang. Hal kecil yang akumulasi dampaknya bisa jadi besar. Memberi kesempatan satu generasi untuk hidup.

Untuk Laut, dan untuk Kita.

Referensi:
~ Omori & Fujiwara (2004) Manual for restoration and remediation of coral reef.
~ Munasik (2002) Reproduksi seksual karang di Indonesia: Suatu kajian.
~ Kleypas et al (2006) Impacts of ocean ccidification on coral reefs and other marine calcifier