Sabtu, 24 Juli 2010

Pantai Padang Lokasi Perdagangan Telur Penyu Terbesar di Dunia



PADANG--Pantai Padang di Kota Padang merupakan tempat perdagangan telur penyu terbesar dan paling terang-terangan di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia. Padahal perdagangan telur penyu telah dilarang undang-undang.

Hal itu dinyatakan Harfiandri Damanhuri, peneliti penyu dari Sea Turtle Information Centre of Indonesia (Setia). Bahkan ia menyebut Pantai Padang sebagai ‘Pasar Regional Telur Penyu'.

Menurut Harfiandri, penyu sudah ditetapkan oleh CITES appendix I katagori hewan yang terancam. Penyu dan telurnya juga sudah dilarang Undang-Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya untuk dieksploitasi. Namun di Kota Padang perdagangan telur penyu, bahkan dalam jumlah banyak, masih tetap bebas.

"Di tempat lain ada yang menjual telur penyu, tapi tidak banyak, paling sekantong dua kantong, kalau di Pantai Padang sekitar 20 gerobang berderet menjual telur penyu," katanya.

Ironisnya, tempat itu tak jauh dari kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang. Selain itu, Sumatera Barat juga sudah ditetapkan salah satu dari 15 provinsi di Indonesia sebagai kawasan konservasi penyu.

"Pemerintah daerah dan lembaga terkait kurang tegas, sudah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi kok dibiarkan terus, tidak terlihat serius, mestinya tempat itu dikontrol," katanya kepada PadangKini.com, Rabu (3/2/2010).

Perdagangan telur penyu memang sudah lama berlangsung di Pantai Padang. Setia mencatat perdagangan telur penyu yang disebut di Padang sebagai ‘Talua Katuang' sudang berlangsung di sana sejak 1942, tiga tahun sebelum Indonesia merdeka. Namun itu, katanya, bukan berarti legitimasi untuk membiarkannya.

"Perdagangan telur penyu di Pantai Padang terlihat setiap tahun bukan menurun, malah semakin naik, baik jumlah pedagang yang menjual, maupun jumlah telur yang dijual," katanya.

Setia telah mengamati perdagangan telur penyu di Pantai Padang sejak 2004. Berdasarkan catatan empat tahunan, pada 2004 terdapat sekitar 19 pedagang dengan rata-rata setiap hari menjual 52 butir telur. Pada 2009 jumlah pedagang bertambah menjadi 20 dengan jumlah telur yang dijual rata-rata per hari 77,8 butir.

"Tahun 2010 ini bertambah satu pedagang lagi karena tak sanggup lagi jadi nelayan," kata Harfiandri.

Telur-telur penyu ini dipasok dari sejumlah pulau di Sumatera Barat. Sebagian besar, sekitar 45 persen dari Pesisir Selatan. Sisanya dari Padangpariaman, Kota Pariaman, Pasaman, dan Kepulauan Mentawai.

"Bahkan saat pasokan di Sumbar kurang, telur penyu didatangkan dari Pekabaru dengan membawanya dalam kardus buah-buahan, itu tandanya orang lebih leluasa menjual di Pantai Padang," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat Yosmeri mengatakan, sudah membuat program pengurangan eksploitasi telur penyu di sejumlah pulau yang biasa memasok ke Pantai Padang. Ia menargetnya pengurangan eksploitasi 30 persen.

"Pulau-pulau yang penduduknya mengambil telur penyu milik hak ulayat, sedangkan perdagangan telur penyu di Pantai Padang sudah lama, karena itu kami terus melakukan sosialisasi dulu agar mereka beralih usaha, meski ada larangan Undang-Undang kami tidak serta merta menerapkan langsung, perlu bertahap," katanya.

Sumber: padangkini.com

Tidak ada komentar: