Rabu, 28 Juli 2010

KeSEMaT, Organisasi Mahasiswa yang Berhasil Menembus Birokrasi Mangrove Nasional dan Internasional

Logo KeSEMaT

Semarang - KeSEMaTONLINE. Dua buah foto di bawah ini adalah foto dua buah backdrop (BD) yang menyematkan lambang KeSEMaT di dalamnya, sejajar dengan institusi nasional di Indonesia. BD sebelah atas dan bawah adalah BD yang menyandingkan KeSEMaT dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), Kementrian Kehutanan (KEHUT), Kementrian Dalam Negeri (KDN), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaaan Nasional (BAKOSURTANAL), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Pengkajian dan Pengembangan (LPP) Mangrove dan Mangroves For The Future (MFF), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dan Borneo Lestari Foundation (BLF) beserta para mitra kerjanya yang lain.





BD - atas adalah KeSEMaT saat bekerjasama dengan KKP di program Pelatihan Training of Trainer (TOT) Ayo Tanam Mangrove di Pekalongan. Sementara itu, BD bagian bawah adalah saat penyelenggaraan Seminar Mangrove Nasional di Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, hasil kerjasama KeSEMaT dengan BLF. Selanjutnya, selama sembilan tahun perjalanannya di “dunia mangrove” Indonesia, sejak berdirinya di 9 Oktober 2010, KeSEMaT yang sebenarnya masih merupakan organisasi mahasiswa di tingkat Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, terbukti telah berhasil bekerjasama dengan institusi mulai dari tingkat akar rumput sampai dengan kementrian di Jakarta. Berbagai pengalaman pekerjaan dan penghargaan tingkat nasional dan internasional, telah berhasil ditorehkan oleh organisasi mangrove mahasiswa yang berkantor di Jl. Ngesrep Barat V/35 Semarang, ini.

Atas kesuksesannya dalam membangun link dan bermitra dengan banyak institusi dan organisasi non pemerintah ini, maka KeSEMaT, disamping diundang menjadi pemateri di seminar-seminar mangrove tingkat nasional dan internasional, juga seringkali diminta berbicara di dinas dan kampus-kampus di Semarang dan sekitarnya, mengenai kunci kesuksesannya dalam memanajemen organisasinya, sehingga bisa sukses melepaskan dirinya dari “niche” kemahasiswaannya dan menembus jaringan birokrasi (mangrove) dari tingkat daerah hingga nasional dan internasional, yang terkesan sulit ditembus.

Menurut Sdr. Oky Yuripa Pradana (Presiden KeSEMaT), organisasinya dalam waktu dekat ini, kembali akan diundang oleh mahasiswa dan dinas di Semarang dan Rembang. KeSEMaT akan berbicara di (1) Kampus UNDIP dan (2) dinas lingkungan di Rembang, untuk (1) memberikan materi tentang bagaimana agar sukses memanajemen organisasi dan (2) mempresentasikan mengenai kinerja dan sepak terjang KeSEMaT dalam mengelola ekosistem mangrove di Indonesia. Dia juga menambahkan bahwa kesuksesan KeSEMaT ini, semoga saja bisa menginisiasi organisasi mahasiswa lainnya, agar bisa memaksimalkan potensinya dan bertarung di kancah regional, nasional dan internsional, sesuai dengan bidang dan minatnya, masing-masing.

Google KeSEMaT disini.

Sabtu, 24 Juli 2010

Pantai Padang Lokasi Perdagangan Telur Penyu Terbesar di Dunia



PADANG--Pantai Padang di Kota Padang merupakan tempat perdagangan telur penyu terbesar dan paling terang-terangan di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia. Padahal perdagangan telur penyu telah dilarang undang-undang.

Hal itu dinyatakan Harfiandri Damanhuri, peneliti penyu dari Sea Turtle Information Centre of Indonesia (Setia). Bahkan ia menyebut Pantai Padang sebagai ‘Pasar Regional Telur Penyu'.

Menurut Harfiandri, penyu sudah ditetapkan oleh CITES appendix I katagori hewan yang terancam. Penyu dan telurnya juga sudah dilarang Undang-Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya untuk dieksploitasi. Namun di Kota Padang perdagangan telur penyu, bahkan dalam jumlah banyak, masih tetap bebas.

"Di tempat lain ada yang menjual telur penyu, tapi tidak banyak, paling sekantong dua kantong, kalau di Pantai Padang sekitar 20 gerobang berderet menjual telur penyu," katanya.

Ironisnya, tempat itu tak jauh dari kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang. Selain itu, Sumatera Barat juga sudah ditetapkan salah satu dari 15 provinsi di Indonesia sebagai kawasan konservasi penyu.

"Pemerintah daerah dan lembaga terkait kurang tegas, sudah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi kok dibiarkan terus, tidak terlihat serius, mestinya tempat itu dikontrol," katanya kepada PadangKini.com, Rabu (3/2/2010).

Perdagangan telur penyu memang sudah lama berlangsung di Pantai Padang. Setia mencatat perdagangan telur penyu yang disebut di Padang sebagai ‘Talua Katuang' sudang berlangsung di sana sejak 1942, tiga tahun sebelum Indonesia merdeka. Namun itu, katanya, bukan berarti legitimasi untuk membiarkannya.

"Perdagangan telur penyu di Pantai Padang terlihat setiap tahun bukan menurun, malah semakin naik, baik jumlah pedagang yang menjual, maupun jumlah telur yang dijual," katanya.

Setia telah mengamati perdagangan telur penyu di Pantai Padang sejak 2004. Berdasarkan catatan empat tahunan, pada 2004 terdapat sekitar 19 pedagang dengan rata-rata setiap hari menjual 52 butir telur. Pada 2009 jumlah pedagang bertambah menjadi 20 dengan jumlah telur yang dijual rata-rata per hari 77,8 butir.

"Tahun 2010 ini bertambah satu pedagang lagi karena tak sanggup lagi jadi nelayan," kata Harfiandri.

Telur-telur penyu ini dipasok dari sejumlah pulau di Sumatera Barat. Sebagian besar, sekitar 45 persen dari Pesisir Selatan. Sisanya dari Padangpariaman, Kota Pariaman, Pasaman, dan Kepulauan Mentawai.

"Bahkan saat pasokan di Sumbar kurang, telur penyu didatangkan dari Pekabaru dengan membawanya dalam kardus buah-buahan, itu tandanya orang lebih leluasa menjual di Pantai Padang," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat Yosmeri mengatakan, sudah membuat program pengurangan eksploitasi telur penyu di sejumlah pulau yang biasa memasok ke Pantai Padang. Ia menargetnya pengurangan eksploitasi 30 persen.

"Pulau-pulau yang penduduknya mengambil telur penyu milik hak ulayat, sedangkan perdagangan telur penyu di Pantai Padang sudah lama, karena itu kami terus melakukan sosialisasi dulu agar mereka beralih usaha, meski ada larangan Undang-Undang kami tidak serta merta menerapkan langsung, perlu bertahap," katanya.

Sumber: padangkini.com

Jumat, 02 Juli 2010

Pembangunan jembatan di Kalimantan mengancam hutan hujan tropis, mangrove dan terumbu karang (4)

Dari Jeremy Hance, Mongabay.com, 3 Januari, 2010


Salah satu sisi hutan Sungai Wain.

Rute alternatif.

Pembangunan jalan dan jembatan Pulau Balang tidak perlu terjadi. Menurut para konservasionis, rute alternatif yang lebih sederhana bisa terwujud yang juga tetap menjaga teluk, bakau, dan hutan. Rute alternatif juga rute yang lebih cepat bagi masyarakat untuk berkendara antara Balikpapan dan Penajam. Dibawah rencana saat ini, perjalanan antara Penajam dan Balikpapan jadi ditempuh 80 kilometer lebih jauh, yang juga lebih lama dibanding melalui fasilitas penyeberangan kapal feri yang saat ini sudah ada. Proyek alternatif ini membutuhkan jembatan dan jalanan dibangun di tepi paling selatan teluk, menjauhi kawasan mangrove dan hutan hujan tropis. Mungkin yang terpenting bagi para politisi adalah, sementara proyek alternatif ini akan memakan biaya lebih besar pada awalnya, jangka panjangnya akan lebih hemat.

"Tidak ada yang mencoba menghitung kerugian ekonomi akibat perombakan pulau Balang dan investasi besar yang akan dibayar pemerintah untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang diakibatkan proyek." ujar :hota.

Proyek alternatif kedua adalah tidak melakukan pembangunan jalan dan jembatan, melainkan dengan sederhana mengembangkan transportasi ferry antara Balikpapan dan Penajam bersamaan dengan pemutakhiran jalan yang sudah ada.

Meskipun proyek Jembatan Pulau Balang sudah melewati Analisa Dampak Lingkungan, Lhota berkomentar bahwa analisa tersebut jauh dari memuaskan.

"Asisten saya dan saya sendiri menghabisakan sebulan di kawasan tersebut secara sukarela mengumpulkan data untuk dimasukkan dalam ANDAL, namun tidak ada yang digunakan. Melihat data yang diambil, document ANDALtidak mengindahkan banyak ancaman utama bagi kawasan tersebut, seperti ancaman kebakaran hutan di HLSW, ancaman punahnya hutan mangrove akibat isolasi hutan dengan hutan lainnya dan banyak lagi. … Lebih lanjutnya, dokumen ANDAL tersebut sulit didapatkan (membutuhkan empat tahun bagi saya untuk mendapatkan kopi-ya dan hampir tidak ada aktivis lingkungan pernah mendapatkan akses ke dokumen tersebut) dan prakteknya juga tidak pernah dikonsultasikan ke publik…. Sudah jelas bahwa tujuan utama kajian ANDAL tersebut hanya sekedar memenuhi persyaratan hukum untuk memiliki dokumen ANDAL dan tidak untuk mengevaluasi analsisa dampak lingkungan proyek tersebut."



Salah satu sisi hutan Sungai Wain

Langkah maju: lokal vs propinsi dan pusat

Baru-baru ini, pemerintah likal, melihat banyak aspek negati dari proyek tersebut, telah menghindar dari mendukung Jembatan Pulau Balang. Sebaliknya mereka memberikan dukungan pada proyek jalan alternatif yang jauh tidak merusak lingkungan dan pilihan yang lebih baik bagi masyarakt.

Sebagaimana Ade Fadli menjelaskan: "masyarakat lokal hanya ingin mendapatkan fasilitas transportasi yang memadai."

Meskipun pemerintah propinsi dan pusat tepat menjadi suporter yang berlawanan, yang mampu mendorong proyek Jembatan Pulau Balang meskipun dengan kehawatiran dan penolakan dari pihak lokal. Ternyata dana pembangunan jembatan dan jalan sudah dijamin oleh investor dari Korea Selatan.

"Pemerintah propinsin dengan mudahnya menghiraukan masalah lingkungan, Mereka menganngap ada kebutuhan besar untuk mengembangkan transportasi antara Kalimantan Timur dan Selatan, yang sebenarnya juga benar, namun tidak menjelaskan mengapa memilih Jembatan Pulau Balang sebagai solusi jalan raya propinsi mengalahkan beberapa saran alternatif lainya," ujar Frederiksson.

"Alasan utama yang saya bisa lihat dari keinginan kuat untuk membangun rute jalan ini adalah panjangnya jalan yang dibangun (pengeluaran proyek yang besar) dan area terbesar yang tersedia untuk spekulasi harga tanah, yang telah berjalan sejak awal 1990 ketika pembangunan jalan pertamakali direcanakan / mulai dibangun. Sejumlah besar orang berpengaruh di tingkat propinsi dan pusat telah membeli lahan tanah dan akan melihat keuntungan besar ketika jalan ini terwujud," ujar Frederiksson.

"Saya saat ini tidak tahu siapa saja yang telah membeli tanah sepanjang kawasan pembanugnan jalan ini namun orang-orang ini sangat berpengaruh, dan, tentunya, pemangku azas yang sangat berambisi. Korupsi adalah bagian tak terpisahkan dari kultur orang Indonesian dan rumor lokal telah menjelaskan apa dibalik keputusan-keputusan pemerintah selama ini," seperti apa yang dikatakan nara sumber yang dirahasiakan, dan menambahkan, "tentunya, rumor ini tidak bisa dibuktikan."

Pada akhirnya membangun jalan akan menjadi sebuah kehilangan besar dalam daftar besar hilangnya keanekaragaman hayati dan hutan Indonesia. Negara kepualuan ini - yang memiliki laju deforestasi terbesar di dunia, kehilangan hampir 25 persen hutanny adlam 15 tahun - juga pelepas emisi karbon ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat yang sebagian besar terkait dengan deforestasi. Sebagai tambahan, pulau Borneo telah kehilangan sekitar 50 persen tutupan hutan sejak 1970-an, meskipun dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya jasa ekologis hutan hujan tropis seperti untuk pengendapan karbon (carbon sequestration), preservasi keanekaragaman hayati, dan tangkapan air tawar.

Meskipun Indonesia memiliki sejarah buruk dalam lingkungan, para konservasionis berharap kali ini pemerintah propinsi dan pusat akan sadar dan terbuka, menjamin bahwa pelestarian hutan - termasuk mangrove dan teluk - adalah cara terbaik kedepannya dalam hal ekonomi dan kelestarian lingkungan.


Gibbon borneo. Foto: Petr Colas.

Gibbon borneo, salah satu satwa HLSW yang terancam punah di daftar merah IUCN


Dugong, salah satu satwa HLSW yang juga terancam punah.

Pembangunan jembatan di Kalimantan mengancam hutan hujan tropis, mangrove dan terumbu karang (3)

Dari Jeremy Hance, Mongabay.com, 3 Januari, 2010


Mangrove di Teluk Balikpapan. Foto: Petr Slavik

Tidak banyak yang tersisa.

Pembangunan jalan yang mengakibatkan perusakan hutan bukan hal baru di beberapa daerah di Kalimantan. Pembangunan jalan telah merusak Taman Nasional Kutai, Hutan Konservasi Bukit Soehato, dan Hutan LIndung Manggar. Kawasn suaka alam liar ini telah kehilangan hampir seluruh hutan primer mereka, dan kebanyakan dari taman nasional sudah pernah terbakar setidaknya sekali.

Proses penghancuran hutan perlahan akibat dampak manusia sudah berjalan di hutan Sungai Wain, yang juga terancam dengan rencana konstruksi jalan raya sepanjang tepi selatan.

"Banyak sekali pembalakan liar berlansung sepanjang jalan, lahan dibuka dengan cepat melalui penebangan dan pembakaran dan beberapa rumah kecil awal sudah mulai muncul di kedua sisi jalan. Sebuah proses yang tidak nyaman," ujar Lotha. Meskipun pemerintah menjanjikan pemantauan yang lebih baik, peningkatan penegakan hukum , dan perlindungan hutan, "dalam prakteknya, tidak ada kawasan cagar alam yangberada sepanjang jalan raya provinsi Kalimantan Timur yang tetap bertahan."

Beberapa jumlah spesies di kawasn tersebut saat ini, secara global terancam punah. Kucing teluk, kucing kepala datar, orangutan Borneo, burung Storm's stork, gibbon Borneo, monyet proboscis, semua terdaftar sebagai Endangered (terancam punah) dalam daftar merah IUCN.

Hutan tersebut juga rumah bagi langur berdada putih, jenis primata yang sulit dijumpai yang beru difoto pertama kalinya di tahun 2005. Kebanyakan dari foto yang direkam berasal dari hutan Sungai Wain.

Bagi Frederikkson, yang mempelajari beruang matahari, yang dikategorikan 'Satwa Rentan' , proyek pembangunan akan berdampak buruk pada populasi lokal hewan yang sudah dipelajarinya beberapa tahun.

"Pembangunan akan lebih mengucilkan populasi beruang matahari yang kecil dan rapuh, yang juga, sayangnya, maskot kota Balikpapan sejak tahun 2004. Pembangunan akan menghabisi kawasan tinggal sejumlah beruang , dan akan meningkatkan penjarahan beruang (melali jerat) lebih banyak lagi" ujar Frederikkson. "Saya mengestimasikan bahwa populasi beruang matahari akan berkurang separuh akibat pembangunan jalan ini dan membuat populasi mereka lebih rentan akan kepunahan yang lebih dini."



Seekor langur di hutan Sungai Wain. Foto: Milan Janda

Pembangunan jembatan di Kalimantan mengancam hutan hujan tropis, mangrove dan terumbu karang (2)

Dari Jeremy Hance, Mongabay.com, 3 Januari, 2010


 Salah satu bagian Hutan Lindung Sungai Wain.
Foto: Marian Bartos

Hilangnya kehidupan liar ?

Jika proyek Jembatan Pulau Balang berjalan terus, Teluk Balikpapan akan selamanya berubah.Teluk yang sudah dangkal akan mengalami erosi dan sedimentasi dari pekerjaan konstruksi di sekitar bukit, membuat teluk semakin sulit diaksed oleh perahu besar dan mengarah pada semakinseringnya bandjir di desa-desa pesisir. Jenis satwa di teluk, seperti dugong, buaya dan penyu hijau - yang sudah terusik oleh sedimentasi saat ini - akan menhadapi dampak lebih lagi dari polusi konstruksi.

Mangrove atau hutan bakau - sebuah ekosistem yang sebagian besar sudah hilang di dunia - akan mengalami dampak yang parah juga. Koridor hijau yang memungkinkan spesies satwa berlalulalang antara ekosistem mangrove dan HLSW akan putus.

"Fauna seperti monyet proboscis dan banyak spesies lainnya tidak bisa bertahan dalam jangka waktu lama, bahakna dalam hutan mangrove itu sendiri", Lhota menjelaskan. "Mereka memerlukan akses berkala menuju hutan disebelahnya untuk berbagai suberdaya hidup kunci mereka. Mangrove sendiri bagi mereka saat ini sudah menjadi lingkungan yang kurang cocok sebagai tempat tinggal dengan sumber makanan yang terbatas. Jika mereka terisolasi dari hutan lain, mereka pada awalnya akan terlihat bertahan namun akhirnya hanya tinggal pohon Rhizopora yang tak berpenghuni."

Hilangnya mangrove juga akan mengancam perikanan lokal sebab ikan memerlukan mangrove untuk memijah, beruaya dan tumbuh: mangrove saat ini mungkin harapan terakhir tempat berkembagn ngya ikan di teluk ini.

"Kalimantan Timur hanya memiliki sedikit kawasan mangrove yang tersis, sebab kebanyakan dari kawasan mangrove telah dirubah menjadi tambak udang dan industri. Dan di Balikpapam, inilah hutan mangrove terakhir yang ada," ujar Ade Fadli dari BEBSiC, kelompok konservasi lokal.

Jalan yang menghubungin jembatan ke Balikpapan akan melewati sepanjang tepian HLSW, dimana tegakan utama pohon-pohon dipterocarp terakhir berada di pesisir selatan dan tengah. Meskipun dampak langsung pembuatan jalan menuju hutan lindung akan minimal, jalan akan membukan akses ke hutan lindung untuk "penebangan liar, perataan lahan, dan yang utama, kebakaran hutan," ujar Lotha.

Api adalah ancaman paling besar bagi hutan. Sementara hutan tropis jarang terbakar dengan sendirinya dalam kondisi alami, dampak manusia di Indonesi telah meninggalkan luka pembakaran sepanjang Kalimantan. Sungai Wain memiliki hutan utama yang belum pernah terbakar di kawasan tersebut, saat kebakaran besar 1998 merebak di sepanjang wilayah, hanya sedikit bagian Sungai Wain yang terbakar.

"Hutan Sungai Wain yang baru terbakar sekali saja, teregenerasi dengan baik namun menjadi rentan akan kebarkaran selanjutnya akibat meningkatnya kelembaban dan jumlah besar kayu mati yang mudah terbakar," Lotha menjelaskan. "Jika terbakar kedua kalinya, dia tidak akan meregenerasi dengan mudah. Dengan kecenderungan pemerintah saat ini membuat hutan ini 'hilang selamanya'; kemungkinan bersar perambahan dan alih guna sangat tinggi.

Rumah bagi 100 spesies mamalia dan lebih dari 250 spesies burung, hilangnya hutan akan berdampak buruk pada spesies tropis, termasuk populasi orangutan reintroduksi.

Sebagai tambahan, hutan in ijuga sumber tangkapan air bersih untuk BUMN Pertamina, dan kawasan industri Kariangau Baru. Hilangnya hutan akan mengancam kebutuhan air industri ini, yang digunakan untuk pendinginan dalam penyulingan dan meunum untuk pekerja.

Hutan Sungai Wain adalah "lahan basah terakhir yang tertutupi oleh hutan dan mensuplai airtawar dengan rutin. Air dari kawasan lindung initelah digunakan industir minyak dan para pekerja / kepala rumah tangganya (mencakup 20persen populasi Balikpapan) sejak 1945," Fredrikkson menjelaskan.

Menurut Lhota, Teluk Balikpapan memiliki potensi tinggi untuk ekowisata dan pendidikan yang sebagian besar belum dicermati lebih lanjut.


Monyet proboscis dewasa. Diperkirakan 5 persen monyet proboscis di dunia saat ini berada di sekitar Teluk Balikpapan. Foto: Petr Colas

Pembangunan jembatan di Kalimantan mengancam hutan hujan tropis, mangrove dan terumbu karang (1)

Dari Jeremy Hance, Mongabay.com, 3 Januari, 2010

Teluk balikpapan di Kalimantan Timur merupakan pusat beragam ekosistem: dugong yang terancam punah memakan lamun di perairan dangkal teluk, monyet proboscis yang bergelayutan di mangrove yang mencapai tinggi 30 meter di sepanjang teluk dan lumba-lumba Irrawady beruaya; melewati mangroce terdapat Hutan Lindung Sngai Wain (HLSW); disini, macan tutul Sunda berburu, beruang matahari memanjat kanopi mencari buah dan kacang, dan reintroduksi populasi orangutan sedang bersarang; namun alam liar ini, bersama semua penghuni yang tak terhitung, terancam oleh pembangunan jembatan dan jalan yang menghubungi kota Penajam dan Balikpapan.

Peta rencana pembanguan Jembatan Pulau Balang dan beberapa proyek alternatif yang lebih ramah lingkungan (garis putus). Gambar: Stanislav Lhota.

Jembatan ini, dikenal dengan Pulau Balang, akan terbentang melewati teluk, melewati pulau Balang, memotong mangrove dari hutan hujan tropis dan melewati sepanjang tepi barat hutan lindung. Sementara dampak langsung adalah deforestasi (penebangan hutan) untuk jalan, pemisahan bakau dari hutan huhan tropis, kerusakan pada karang. Peneliti mengatakan bahwa, penyediaan akses mudah ke mangrove dan hutan tak lain adalah dengan merusak.

Stanislav Lhota, ahli primata dari Universitas Bohemia Selatan berkata "Ancaman paling serius adalah yang tidak langsung, yaitu mebuka akses tak terkendali di seluruh kawasan tersebut".

Proyek ini akan menjadi akses terbuka untuk tempat tinggal, penebangan ilegal, bertambahnya konflik lahan, kebakaran hutanyang berkelanjutan, penjarahan satwa liar. Dampak langsungnya adalah perusakan kawasn mangrove dan satwa liar didalamnya, namun juga (pelan tapi nyata) perusakan sisi barat hutan Sungai Wain," ujar Dr. Gabriella Fredriksson, ahli beruang matahari, bekerja dalam pengelolaan dan konservasi HLSW lebih dari satu dekade kebelakang.

"Perusakan mangrove akan berdampak pada satwa liar bahari yang rentan di teluk (Balikpapan) dan juga perikana akibat hilangnya daerah untuk berkembang", ujar Dr. Danielle Kreb dari LSM lokal RASI, dia telah mempelajari mamalia laut Balikpapan dalam beberapa tahun kebelakang dan menemukan bawha habitat inti lumba-lumba Irrawady berada disekitar Pulau Balang.

Meskipun dampak lingkungan sudah jelas diutarakan oleh konservasionis, pemerintah provinsi dan pusat mendukung proyek ini. Pemerintah lokal, sebaliknya, telah memberi sinyal diakhir tahun 2009 untuk tidak mendukung proyek tersebut, terutama ketika diadakannya rencana alternatif yang tidak akan mengancam ekosistem, dan sebagai tambahan juga memberikan rute yang jauh lebih pendek antara Penajam dan Balikpapan.

Kamis, 01 Juli 2010

Damselfish, si tukang kebun, bertugas memangkas dan memanen alga di karang.

Semakin dalam penelitian manusia saat ini dalam biologi ikan karang. Salah satu spesies ikan Damselfish, Stegates nigircans, ternyata secara selektif 'memangkas' alga tertentu di karang, dan membiarkan jenis alga merah Polysiphonia untuk tumbuh. Alga kegemaran damselfish initernyata, alga halus tipis yang sering kita jumpai melapisi karang yang baru mati (Recently Dead Coral) atau yang sudah tak berbentuk (Rock). 


 
Stegates nigircans
Stegates nigircans
Stegates nigircans
Stegates nigircans dalam teritorial 'kebun'-nya.

Begini ceritanya, Hiroki Hata dari Universitas Ehime, Jepang, bersama tim peneliti secara khusus menginvestigasi prilaki Damselfish sebagai 'tukang kebun'. Mereka mensurvei 320 teritorial dari 18 jenis Damselfish. Mereka juga menengok hingga alga jenis apa yang berasosiasi dengan mereka. Tidak tanggung-tanggung, pengamatan dilakukan di Mesir, Kenya, Mauritius, Maladewa, Thailand, Borneo, Kepulauan Okinawa dan the Gerat Barrier Reef. 

Menarik sekali bahwa Damselfish ternyata tidak memilik organ untuk mencerna serat selulosa, dan minim akan ensim pencernaan untuk mencerna berbagai jenis alga.Alga kegemaran mereka, alga merah Polysiphonia, tidak begitu bisa bersaing dengan jenis alga lain yang tidak bisa dimakan Damselfish, dan ternyata Damselfish membiarkan mereka Polysiphonia dengan memakan alga-alga lain itu. Luar biasa, ikan Damselfish 'berkebun' !. Dan ketika Poly siphonia sudah cukup lebat, mereka 'panen'. 

Kegiatan 'berkebun' ini sebuah temuan baru keterkaitan mutualistik antara alga Polysiphonia dan jenis Damselfish tertentu, dan menjadi salah satu hal baru tentang hubungan ikan dan alga di habitat air. Menariknya lagi, interaksi alga laut dan Damselfish yang herbivori (pemakan tumbuhan) lebih sering terjadi di Indo Pasifik. 

Dalam kunjungan terumbu berikutnya, menetaplah sejenak ketika jumpa Damselfish. Lihat perilaku mereka memakan alga, jika ada alga lapisan tipis alga yang tidak dimakan, kemungkinan itu Polysiphonia. Ternyata hingga 'beludru' halus alga yang melapisi batuan, karang mati, semua punya peranan. Kelompok Polysiphonia sendiri terdiri lebih dari 100 spesies, dan untuk membedakannya diperlukan mikroskop. Luar biasa kerja para peneliti itu tentunya. 
Referensi 

Hiroki Hata, Katsutoshi Watanabe and Makoto Kato. Geographic variation in the damselfish-red alga cultivation mutualism in the Indo-West Pacific. BMC Evolutionary Biology, 2010